Mencari dalam mimpi

Dalam alam bawah sadar menginginkan
tanya saling bagi dan tatap saling cari
Dalam nyata tak mampu terelakkan
terbatasnya ruang temu dan waktu berbagi

Menjadi alam bawah sadar tuk meninggikan
Menyempatkan diri di tengah kesempitan
Tak menyempitkan di dalam keluasan
Memang sejalan dan tak berbeda jalan

Alam bawah sadar seperti tak ingin terpisahkan
Seakan tak ingin ada waktu yang terlewatkan
Ketika keingintahuan adalah karena perhatian
Dan baik-baiknya adalah sebuah harapan

Ketika jiwa bertemu raga mencari
Pertemuan menjadi tak hanya ingin di sini
Berharap tetap bertemu walau dalam mimpi
Serasa tak ingin terjaga dan tak ingin berhenti

Advertisements

Pada yang tak biasa..

Dimanakah kamu?
Adakah suatu yang tak biasa juga padamu?

Aku kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.

Kadang kumerasa terlalu banyak bicara dengan merangkaikan terlalu banyak aksara.
Lalu jemariku pun tak mampu membalas kalimatmu walau sekedar sepatah kata.

Dimanakah kamu?
Adakah rasa yang tak biasa ini juga milikmu?

Dan pada akhirnya hanya ada kata-kata tanpa suara dalam kepala, antara aku dan kamu..
___________________________

* tulisan lama yang kembali terbaca

Kampung 99 Pepohonan

Penamaannya agak tidak biasa menurut saya. Saya menemukan nama itu dari hasil pencarian di internet, dengan kata kunci ‘tempat wisata di Depok’. Saking mati gaya mau kemana -bukan ke mall tentu saja- maka biarlah ibu jari berselancar mencari lokasi. Alhamdulillah, jaman sekarang semuanya serba mudah dengan internet, walau kalau tidak bijak kemudahan bisa jadi jebakan bahkan permasalahan.

Dari nama-nama tempat yang muncul, saya tertarik dengan yang satu ini, Kampung 99 Pepohonan. Selain namanya, juga karena ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Kemudian saya membaca berbagai informasi dan foto-foto yang berkaitan dengan tempat tersebut, nomor teleponnya langsung saya catat.
Langkah pertama, tentu saja menghubungi melalui telepon untuk meminta informasi lebih jauh : tempat apakah itu, apa saja fasilitasnya, dimanakah lokasi tepatnya, berapa biaya untuk masuk kesana, dan sebagainya (pertanyaan ibu-ibu kadang melebar kemana-mana).
Akhirnya, setelah menyampaikan informasi pada keluarga, berangkatlah kami kesana.

Jalan menuju lokasi cukup menyenangkan untuk saya. Setelah melewati jalan besar, masuk lagi ke jalanan yang hanya cukup untuk dilewati satu mobil dan satu motor, itupun harus hati-hati supaya tidak bersenggolan.
Semakin mendekati lokasi, mulai terasa hawa sejuk dan nampak rimbun dedaunan dari pohon-pohon yang tinggi.

Untuk masuk ke lokasi tidak dikenakan biaya, tapi bila kita ingin menikmati fasilitas-fasilitas permainan dikenakan biaya per fasilitas, atau bisa juga memilih paket kegiatan yang lebih ekonomis. Saya lupa berapa tepatnya biaya yang dikenakan, berhubung kisah liburan baru saya tuliskan sekarang, jarak waktunya lumayan lama, sementara daya ingat tidak bisa diandalkan, alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Sementara anak-anak (anak saya dan ponakan) bermain, kami para ‘pengasuh’ menikmati segarnya hijau pepohonan yang rindang sambil berjalan-jalan serta menikmati makanan dan minuman di restoran. Restorannya cukup nyaman, terdiri dari dua lantai, dan bangunannya terbuat dari kayu-kayuan.

Makanan dan minuman yang disajikan merupakan hasil olahan dari kebun/kandang sendiri, dari mulai sayuran hingga daging sapi. Masyaallah, luar biasa ya.
Untuk rasanya, memang tidak terlalu istimewa, tapi enak (bagi saya rasa makanan hanya ada dua : enak dan enak sekali). Harganya tak jauh beda dengan makanan di rumah makan pada umumnya. Mungkin bisa dikategorikan ‘ada harganya’ untuk menu makanan yang biasa saja -ada banyak menu serupa di luar sana. Wajarlah, mengingat lokasinya yang di ‘pedalaman’ tentu biaya transportasi dan pengadaan bahan-bahan lainnya menjadi tidak murah.

Namun bagi saya pribadi, bisa makan dengan suasana tenang dan sejuk, rasanya itu sudah luar biasa nikmatnya, jadi saya tidak akan membandingkan dan mengeluhkan soal urusan-urusan diatas.

Ada satu kisah yang saya dapat dari petugas parkir -yang sudah bekerja belasan/puluhan tahun, saya lupa (lagi) tepatnya- saat menunggu anak-anak yang sedang berkeliling naik kuda.

Bapak itu bercerita, suatu hari dia sedang berjalan di area Kampung 99. Saat berjalan, ada ranting yang menghalangi, lalu beliau patahkan ranting tersebut. Ternyata tanpa sepengetahuannya, sang pemilik ada dibelakangnya, lalu menegur beliau, “kenapa rantingnya dipatahkan? kamu mau kalau tangan kamu diputus?!”.
Jadi asal mula Kampung 99 Pepohonan ini menjadi ada, adalah karena kecintaan pemiliknya pada pohon, demikian kata beliau. Menurut bapak petugas parkir itu, pohon-pohon ini memang sengaja ditanam, jadi lokasi ini adalah hasil kesungguhan sekian waktu lamanya dari sang pemilik, untuk mewujudkan cita-citanya, atas ijin Allah (dan juga sebagai ladang ibadahnya -ini pendapat/penilaian saya sendiri).

Dan saya menduga, angka ’99’ dalam penamaan lokasi mengacu pada Asmaul  Husna, hal ini lupa saya tanyakan pada bapak petugas parkir, yang tadi tanpa diminta telah menceritakan hal kecil, tapi perlu digaris bawahi dan diingat, tidak boleh menyakiti makhluk Allah, sepanjang tidak menjadikan itu gangguan yang berarti.

Alhamdulillah, dari perjalanan sederhana, ada hal-hal kecil yang selalu mengingatkan pada Sang Pencipta.
Pohon, tidaklah hanya menjadi pohon. Pepohonan jadi rumah bagi burung-burung atau bagi hewan/serangga, hasilnya bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, keberadaannya membuat keberlangsungan kehidupan di bumi ini.

Betapa banyaknya ciptaan Allah yang kita nikmati namun lupa disyukuri. Dan Allah berbuat sesuai kehendak-Nya, mengilhamkan pada manusia untuk menjadi tangan-Nya, melestarikan alam, menjaga lingkungan, tempat dimana manusia tinggal.
Masihkah meragukan cinta Allah pada kita? 

Menjadi catatan bagi saya : harus terus belajar bersyukur, untuk  udara yang tersedia, untuk nafas yang masih diijinkan-Nya, untuk semua hal-hal kecil lainnya, yang sering terlewatkan, karena terlalu banyak keluhan. Astaghfirullah wa atuubu ilaih.

___________________________________

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
{ QS. Al-Isra’ : 44 }

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Libur telah tiba (?)

Terlalu betah di rumah.

Ternyata hal itu lumayan ‘merepotkan’ ketika musim liburan tiba. Tak tahu harus mengajak kemana ketika keluarga kumpul semua. Selain memang tidak pernah menjelajah daerah tempat tinggal -kalau niat bisa saja mencari informasi- juga memang pada dasarnya rasa malas menggerogoti bila liburan seperti ini. Terbayang jalanan padat oleh bermacam kendaraan, lokasi wisata yang akan penuh manusia, kebersihan kamar mandi kurang (tidak) terjaga, antrian untuk beribadah sholat di musholla/mesjid yang kecil tempatnya, berdesak-desakkan pula. Aah.. belum juga apa-apa, rasa tidak nyaman sudah jadi juara.

Saya lebih nyaman justru selama liburan tinggal saja di rumah. Di saat orang-orang memenuhi segala macam antrian, saya cukup bahagia jadi orang rumahan kala liburan. Tapi yang jadi masalah adalah ketika si kecil mengeluh bosan. Baru saya tersadar, bukan saya yang sedang menikmati liburan -karena setiap hari saya ‘libur’ di rumah- tapi justru anak sekolahan yang butuh hiburan, karena setiap hari berkutat dengan pelajaran.

Bingung juga, mau jalan-jalan kemana. Mengajak pergi ke mall, hmm.. bukan liburan pun sudah biasa beredar di mall. Berenang? Wah, sudah terbayang kumpulan manusia dalam kolam, jadi macam es cendol. Ke taman bermain yang outdoor, terkendala dengan cuaca. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, hampir beberapa malam, bahkan hingga pagi, kota ini diguyur hujan yang lumayan deras.

Baiklah, saya sadari, memang saya si manusia rumahan, yang akhirnya kesulitan membuat acara liburan, selain dengan santai-makan-tiduran, atau cukup ditemani bacaan. Bahkan sekedar keluar membeli penganan ke depan pun, saya enggan. Untuk masakan, saya pesan pada asisten rumah tangga untuk dibuatkan. Bila ingin jajan, saya minta tolong pada anak-anak yang sudah besar untuk membelikan. Bahkan lagi, saya jarang sekali keluar melebihi pagar rumah. Berlama-lama duduk di teras pun tak betah. Apakah dalam diri saya ada yang salah? Entahlah.

Dan kini, ketika musim liburan tiba, saya mati gaya. Harus pergi kemana? Apalagi ketika kata ‘terserah’ telah disampaikan oleh keluarga yang saya mintai pendapatnya.

Saya menghitung hari, kapankah liburan ini resmi diakhiri.

***

Tulisan ini dibuat saat liburan lalu. Tapi karena banyak hal, baru teringat sekarang untuk ‘ditayangkan’. Akhirnya kami keluar rumah juga, alhamdulillah, dari hasil pencarian ditemukan lokasi wisata yang dekat dengan tempat tinggal, Kampung 99 Pepohonan namanya. Nanti mungkin bisa saya ceritakan, insyaallah.