Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Libur telah tiba (?)

Terlalu betah di rumah.

Ternyata hal itu lumayan ‘merepotkan’ ketika musim liburan tiba. Tak tahu harus mengajak kemana ketika keluarga kumpul semua. Selain memang tidak pernah menjelajah daerah tempat tinggal -kalau niat bisa saja mencari informasi- juga memang pada dasarnya rasa malas menggerogoti bila liburan seperti ini. Terbayang jalanan padat oleh bermacam kendaraan, lokasi wisata yang akan penuh manusia, kebersihan kamar mandi kurang (tidak) terjaga, antrian untuk beribadah sholat di musholla/mesjid yang kecil tempatnya, berdesak-desakkan pula. Aah.. belum juga apa-apa, rasa tidak nyaman sudah jadi juara.

Saya lebih nyaman justru selama liburan tinggal saja di rumah. Di saat orang-orang memenuhi segala macam antrian, saya cukup bahagia jadi orang rumahan kala liburan. Tapi yang jadi masalah adalah ketika si kecil mengeluh bosan. Baru saya tersadar, bukan saya yang sedang menikmati liburan -karena setiap hari saya ‘libur’ di rumah- tapi justru anak sekolahan yang butuh hiburan, karena setiap hari berkutat dengan pelajaran.

Bingung juga, mau jalan-jalan kemana. Mengajak pergi ke mall, hmm.. bukan liburan pun sudah biasa beredar di mall. Berenang? Wah, sudah terbayang kumpulan manusia dalam kolam, jadi macam es cendol. Ke taman bermain yang outdoor, terkendala dengan cuaca. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, hampir beberapa malam, bahkan hingga pagi, kota ini diguyur hujan yang lumayan deras.

Baiklah, saya sadari, memang saya si manusia rumahan, yang akhirnya kesulitan membuat acara liburan, selain dengan santai-makan-tiduran, atau cukup ditemani bacaan. Bahkan sekedar keluar membeli penganan ke depan pun, saya enggan. Untuk masakan, saya pesan pada asisten rumah tangga untuk dibuatkan. Bila ingin jajan, saya minta tolong pada anak-anak yang sudah besar untuk membelikan. Bahkan lagi, saya jarang sekali keluar melebihi pagar rumah. Berlama-lama duduk di teras pun tak betah. Apakah dalam diri saya ada yang salah? Entahlah.

Dan kini, ketika musim liburan tiba, saya mati gaya. Harus pergi kemana? Apalagi ketika kata ‘terserah’ telah disampaikan oleh keluarga yang saya mintai pendapatnya.

Saya menghitung hari, kapankah liburan ini resmi diakhiri.

***

Tulisan ini dibuat saat liburan lalu. Tapi karena banyak hal, baru teringat sekarang untuk ‘ditayangkan’. Akhirnya kami keluar rumah juga, alhamdulillah, dari hasil pencarian ditemukan lokasi wisata yang dekat dengan tempat tinggal, Kampung 99 Pepohonan namanya. Nanti mungkin bisa saya ceritakan, insyaallah.

Ia dan masa lalu yang bukan miliknya

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Ia paksakan tak menitikkan air mata.

Setiap manusia memiliki masa lalu.
Masa yang bahagia, haru biru bahkan sendu.
Ada yang menyimpannya, berusaha melupakannya, atau kembali mengenangnya bila ada waktu.
Tapi masa itu tak pernah berlalu, akan terus hidup bersamamu, mungkin membentukmu, bahkan bisa jadi justru menghancurkanmu.

Maka jangan berdiam di masa lalu, lihatlah apa yang kini telah dikaruniakan Sang Pencipta untukmu
.
Ingin ia mampu berkata pada seseorang seperti itu, namun nyatanya ia hanya bisa berkata dalam hati yang kelabu.

Ia juga memiliki masa lalu.
Ia juga memahami bahwa seseorang pun memilikinya, sebuah masa lalu.
Tapi salahkah bila ia hanya ingin menjadi bagian saat ini, ingin menjadi yang kini.
Dan ketika masa lalu yang bukan miliknya itu hadir tetiba bagai hantu, lidahnya kelu.
Menerjemahkan ini semua ia tak mampu, mungkin bahkan tak mau.

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Tanpa dipaksa ia meneteskan air mata..

Some memories never leaves your bones, like salt in the sea : they become part of you
– and you carry them  [ paper wings ]

*and she’s carrying them, not her memories but other`s..

Be Gra(y)teful..

Abu-abu. Gray. Perak. Silver.
Uban, begitu dinamakan. Saya termasuk manusia yang telah beruban sejak usia muda. Ya sekitar usia duapuluhan lah kira-kira, usia muda kan ya?

Awalnya hanya ada satu atau dua, yang saat hadirnya membuat gatal kepala. Saya pikir kena kutu. Tapi setelah dilihat, ternyata ada ‘harta’ di kepala, rambut perak.
Ibu saya bilang, bahwa memang tumbuh uban kadang bisa membuat gatal.
Saat itu saya tidak merasa terganggu, karena jumlahnya tak sampai habis dalam sepuluh hitungan. Namun lama kelamaan bertambah banyak. Sekarang justru rambut saya yang berwarna hitamlah yang bisa dihitung dan jadi ‘minoritas’.

Untuk mencari informasi mengenai ‘harta’ di kepala saya -seperti biasa- saya berselancar di dunia maya.

Dari sumber yang saya baca (detikCom), dijelaskan bahwa setiap rambut memiliki akar yang berisi struktur seperti tas kecil atau disebut dengan folikel rambut. Folikel rambut ini mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin, yang bertanggung jawab terhadap warna rambut. Seiring berjalannya waktu, sel-sel pigmen di dalam folikel rambut akan berkurang yang membuat rambut tidak lagi memiliki melanin yang banyak. Kondisi inilah yang mengubah warna rambut menjadi abu-abu atau putih.

Lalu pertanda apakah si rambut abu-abu yang hadir begitu dini?
Diterangkan pula dalam artikel tersebut bahwa secara genetis setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan uban (atas ijin Allah). Beberapa kondisi bisa membuat uban muncul lebih awal, diantaranya faktor genetik, memiliki penyakit anemia, gangguan metabolisme, menopause dini dan juga merokok. Hmm.. dari semua yang disebutkan, rasanya bagi saya lebih nyaman bila sebab hadirnya uban ‘di awal waktu’ ini karena fakfor genetis, bukan yang lainnya, semoga memang demikian (bila Allah ijinkan).

Hadirnya rambut abu-abu adalah sebuah karunia, entah datang saat usia senja -seperti umumnya- atau tiba ketika masih terbilang muda, qaddarullah.
Mengenai uban ini juga ada petunjuknya dalam syari’at Islam. (Sumber : rumayshoCom)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.”
{ HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan }

Mahabesar Allah yang telah memberikan kebaikan luar biasa ‘hanya’ dari rambut yang tak lagi hitam warnanya, bahkan walau hanya sehelai saja.

Kemudian apa yang harus kita lakukan dengan rambut istimewa itu? Yang utama adalah jangan dicabut. Karena ‘harta’ di kepala itu akan memberikan hadiah luar biasa nantinya, insyaallah.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”
{ HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih }

Dan apa yang dilarang dalam syari’at Islam pasti mengandung kebaikan. Karena dari segi kesehatan pun dianjurkan untuk tidak mencabut uban. Mengapa? karena bisa merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut. Jika akar rambut ini rusak nantinya dapat memicu terjadinya infeksi.
Selain itu kebiasaan mencabut uban juga bisa membuat rambut menjadi tipis yang menyebabkan rambut uban akan terlihat lebih banyak, meskipun sebenarnya jumlah uban yang muncul di rambut itu tetap (detikCom).

Jadi harus bagaimana dengan kepala yang sudah keperak-perakan ini, bolehkah diwarnai? Ternyata boleh, alhamdulillah. Tapi tunggu dulu, ini pun telah diatur secara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” { HR. Muslim }

Jadi mari mewarnai, karena selain untuk mempercantik diri –for mahram only– juga untuk menyelisihi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.”

{ Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim }

So, be gra(y)teful.
Alhamdulillah `ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

Percakapan

P : hai,..
L : aku sudah baca tulisanmu
P : terus?
L : bagus
P : itu saja?
L : memang kalau aku tanya perihal tulisanmu, kamu mau jawab?
P : tergantung pertanyaannya
L : itulah.. makanya aku tak akan bertanya
P : kok gitu?
L : gitu bagaimana?
P : jadi tidak mau tahu?
L : memang apa yang aku harus tahu?
P : ya apa saja, apa yang kamu rasa ingin kamu tahu
L : bagaimana caranya aku tahu?
P : bertanya, kalau menduga-duga saja tak akan jadi puas rasa ingin tahunya
L : tapi tidak semua pertanyaan akan ada
 jawabannya
P : kok gitu?
L : kamu sendiri tadi yang bilang, jawaban tergantung pertanyaan
P : ya cobalah kamu tanya dulu padaku
L : sudahlah,..
P : kamu memang tidak mau tahu
L : karena kamu tidak ingin aku tahu
P : aku mau tahu, seberapa besar rasa ingin tahumu
L : seberapa pentingnya keinginanku untuk tahu bagimu?
P : kamu selalu bertanya
L : dan kamu tidak pernah ingin memberi jawaban
P : lalu, akan berhenti bertanya?
L : (diam)
P : jangan bosan bertanya, karena suatu saat nanti mungkin aku akan bercerita
L : baiklah,..

__________

P ; perempuan
L ; laki-laki

*terilhami dari sebuah percakapan, pada suatu sore seusai hujan

Tentang ia

Ia kehilangan daya
Bersusah payah menemukan cara
Pernah diam atau pura-pura tertawa
Lelah jiwanya tak ingin tampil di muka

Ia tak mampu merangkai rasa
Tak tahu juga bagaimana menemukan kata
Sementara antrian peristiwa terus memenuhi kepala
Hingga ia selalu bertanya, akankah nanti ada jeda ?

Ia sungguh mampu mengelabui
Dalam senyum manis ia bersembunyi
Melewati jalannya sendiri, dalam langkah sunyi
Bersama langit -biru atau kelabu- yang kadang ia tatapi

Ia hanya ingin bisa sejenak pergi
Hanya bercakap-cakap dengan hati
Atau berharap bisa berteriak sesekali
Atau mungkin cukup ditemani air mata hingga pagi..

Ia terus bertanya, kemana ini semua akan bermuara ?