Para “last minute’rs” dan para “late’rs”

Sore itu saat matahari mulai tak menampakkan diri dan awan pun masih menahan hujan, nampak orang-orang bergegas, seakan berlomba ke sebuah tujuan. Bersegera memasuki pintu masuk dan peron stasiun kereta api. Bersegera menuju kereta api yang  waktu keberangkatannya sebentar lagi. Orang-orang yang datang lebih awal sudah masuk lebih dulu ke dalam gerbong dan berada di sekitar tempat duduk yang nampaknya tak menyisakan lagi bangku kosong.

Setengah berlari beberapa orang ‘mengejar’ masuk stasiun di tengah suara petugas yang berseru bahwa kereta api akan segera meninggalkan tempat. Petugas lainnya terlihat berkoordinasi dengan awak kereta api untuk menahan sebentar agar kereta jangan dulu berangkat.

Untuk mengejar keberangkatan kereta api dan agar tidak tertinggal darinya, sebagian besar orang rela berpagi-pagi datang dan mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal. Waktu keberangkatan dari rumah atau last point ke stasiun kereta api diperhitungkan dengan matang termasuk pertimbangan jarak dan waktu tempuh perjalanan menuju stasiun.

Terbayang fenomena yang sama di terminal bis, bandara, atau bahkan tempat kerja, mewakili tempat-tempat keberangkatan di mana orang-orang bersemangat dan bergegas tak ingin tertinggal keberangkatan menuju tujuan perjalanannya.

Termenung sejenak di tengah hiruk-pikuk stasiun itu. Sesaat serasa hening di tengah keramaian, seperti pengeras suara yang sedang dihentikan bunyinya. Suasana sekeliling serasa sedikit melamban, seperti frame display yang diputar dalam gerak lambat.

Menerawang di batas kesadaran. Memikirkan perjalanan yang lebih panjang dari ujung kehidupan. Tapi apakah kita sudah [lebih] bersungguh-sungguh menyiapkan bekal? Di antara bekal-bekal, yang segera terlintas adalah perjalanan harian ke masjid -bagi pria yang tidak punya udzur syar’i- untuk memenuhi panggilan-Nya dan amal kebaikan lainnya.

Hadir tanya dalam diri, apakah semangat kita sudah seperti ketika hendak menempuh perjalanan di dunia dengan menggunakan kereta? Datang lebih awal dan bersegera dalam kebaikan agar tidak tertinggal keberangkatan? Berpagi-pagi dan menyiapkan semuanya di depan?

Karena sifatnya yang rutin dan harian -pagi siang dan malam-, shalat (berjama’ah di masjid) mungkin jadi malah kadang ‘terabaikan’ persiapannya. Amal kebaikan yang lain mungkin tidak terlihat persis time frame/limit-nya, yang malah jadi lebih samar kalau menunda-nundanya.

Khawatirnya hampir di semua lini lebih sering seperti penumpang kereta api yang datang di menit-menit terakhir sebelum keberangkatan, atau malah yang terlambat karena kereta telah berangkat.

Sekali dua kali terlambat mungkin bisa dimaafkan (iya kah?). Tapi jika sampai terus menerus maka sepertinya ada yang perlu dipetakan (ulang). Yang jika dibiarkan dan tidak segera diobati, khawatirnya jadi kebiasaan.

Semangat dan kesadaran bisa jadi tetap sehat, tapi kadang yang terlupa adalah persiapan yang baik dan mengantisipasi penyebab tertunda dan terlambat. Karena biasanya perlu usaha lebih untuk mengembalikan ke haluan dan menjaga ‘stamina’, lebih dari usaha ketika mengarahkan pada awalnya.

Dalam hal ini jangan sampai kita tercitrakan di hadapan Yang Maha Tahu dan juga para penduduk langit, bahwa kita termasuk para “last minute’rs” dan para “late’rs” -yang datang di menit-menit terakhir atau yang malah terlambat tadi-, dari kebaikan-kebaikan yang mungkin dilakukan. Maka sudah saatnya memacu diri di batas (maksimal) kemampuan, sehingga tidak terluput bekal untuk perjalanan panjang yang akan tidak berkesudahan..

It’s been a while..

It’s been a while since your last talking
It’s been a while since your last facing

The air became cold after its charming
The water was freezing after its flowing

Maybe because of a lot of things
Maybe because of a lot what you think

While you were self-contemplating
While you were also site-[re]constructing

Kind of loosing the focus in multi-tasking
Kind of burried in the retained feelings

Though you see now again the door opening
Though you feel now again the ice melting

The desires and the lines were like circling
The ground and the horizon were like rolling

Struggling to return to the building
Struggling to start and re-evaluating

As if you were message-expressing
As if you were in-front-of-mirror talking

J  a  r  a  k

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Ketika semuanya terasa begitu berat
Aku merasa kian merentang jarak

Tak ingin bergerak
Menyerahku dalam rengkuh ketakberdayaan
Membiarkan sepi saja yang menjadi kawan
Merelakan jiwa ini kian terpasak

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Terlupakan aku pada sesuatu yang sesungguhnya teramat dekat
Lalu mengapa akulah yang membuat jarak ?

Perlahan kuberanjak,
mengajak jiwaku bergerak
berusaha memutuskan jarak..

***

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.”


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[ Qs. al-Baqarah : 186 ]

Kisah tak sampai

Aku sudah membuatkanmu sebuah cerita, merangkai aksara menjadikannya kata-kata, berbaris-baris banyaknya
Menggambarkan kisah yang pernah ada, memberinya jiwa
Tapi entah dimana kamu berada, mungkinkah kamu akan membacanya?

Aku sudah menyiapkan cerita lagi, yang akan kutulis nanti
Nanti ketika jari jemariku ingin menari, mengisahkan segelas coklat panas dan secangkir kopi,
mengisahkan senja yang tak jingga warnanya, mengisahkan titik-titik air hujan pada kaca jendela

Harus bercerita apalagi aku?
Kini semua hanya tentang aku
Aku yang menunggu angin mengabarkan berita tentangmu
Tapi hingga kini tak kudengar bisikan sang bayu

Tak ingin lagi aku bercerita
Akan kurangkai semua rasa dalam larik-larik doa
Semoga mengangkasa hingga ke langit-Nya
Langit yang akan berwarna jingga bila senja tiba..

*coretan beberapa tahun lalu, dengan sedikit perubahan yang dirasa perlu

R e c h a r g e

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  { Qs. Al Baqarah: 216 }
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikian yang terjadi.
Pada suatu hari di bulan pertama tahun ini, saat sedang santai sore menikmati kopi, tetiba.. braaak!! Qaddarullah, ternyata atap rumah bermasalah, ambruk. Semua baik-baik saja, tak ada yang tertimpa, karena tidak -belum- sampai ambruk ke bawah, alhamdulillah.
Demi keamanan penghuni, kami harus lekas pindahan. Serba mendadak. Lelah melanda.

Singkatnya, dalam waktu satu minggu dari atap roboh, kami telah pindah. Tinggal di rumah kontrakan selama rumah dalam perbaikan. Allah berikan kemudahan. Mudah memperoleh tukang, gampang mencari rumah kontrakan, alhamdulillah.

Di rumah ‘baru’ ini -yang lebih besar dari rumah kami, alhamdulillah- tentunya fasilitas hiburannya tak bisa seperti di rumah sendiri. Karena layanan televisi berlangganan terpaksa sementara berhenti.
Maka rasanya seperti ‘kurang kegiatan’. Akhirnya saya menyadari, betapa banyaknya waktu saya selama ini di depan layar kaca (kadang saya selingi dengan membaca). Buktinya, saya merasa begitu ‘menganggur’ ketika semua tugas-tugas rumah telah selesai.

Saya memutuskan untuk membaca. Tapi baca apa? Buku-buku yang baru saya beli sudah dibaca semua. Agak susah memang dengan kebiasaan diri sendiri, kalau membaca sulit berhenti, sehingga bila membeli beberapa buku dengan harapan bisa ‘awet’ mengisi waktu, akhirnya dengan cepat habis terbaca. Saya pernah membaca buku, sekitar tujuh ratusan halaman, dalam waktu dua hari saya selesaikan. Tentunya tanpa melupakan tugas dan kewajiban. Namun kembali lagi pada isi bukunya. Saya pernah juga membeli buku, saya kira akan menarik untuk membacanya, ternyata malah membosankan, saya tinggalkan setengah jalan.

Saya akhirnya melihat-lihat lagi koleksi buku dalam kardus. Karena akan tinggal tak terlalu lama, jadi hanya keperluan-keperluan utama yang dibuka dan ditata. Sementara buku-buku tetap dibiarkan di dalam kardus saja.
Saya berpikir untuk membaca ulang saja buku lama yang menarik, daripada tak ada bacaan. Saya angkat tumpukan buku, saya ambil satu buku, ‘hmm.. jangan yang ini’, ambil lagi buku, ‘ah, malas baca yang ini diulang lagi‘, begitu selama beberapa waktu, memilih-milih buku. Dan akhirnya saya mendapatkan buku La Tahzan, karya DR. ‘Aidh al-Qarni, alhamdulillah. Saya langsung merasa bersemangat ingin membacanya kembali.

Saya belajar lagi. Saya merasa seolah-olah seperti baru membeli dan membacanya. Sama sekali saya tak teringat faedah-faedah luar biasa darinya, padahal buku itu sudah lama sekali saya beli, langsung saya baca kala itu. Tapi dulu saya seakan-akan seperti membaca novel, yang ingin segera ditamatkan. Tak ada pelajaran.

Entah karena faktor usia (dulu perempuan muda, sekarang perempuan dewasa, jangan bicara angka, haha..) atau karena sedang merasa kelelahan jiwa raga, namun apapun alasannya -semua sudah Allah tetapkan- kini setiap lembarnya ternikmati, atas kemudahan dari Allah, maka saya mampu mulai belajar meresapi dan memahami setiap nasehat yang tertuang dalam buku itu, dan semoga Allah mampukan untuk menjalankannya.

Semua yang terjadi, telah Allah gariskan. Dalam setiap kejadian ada kebaikan yang kita tak ketahui, banyak bahkan. Saya sungguh bersyukur, dengan cara yang tidak menyenangkan (rumah bermasalah, mendadak pindah, pikiran lelah) saya telah ‘dipertemukan kembali’ dengan sebuah buku yang sangat bermanfaat. Saya belajar (lagi) melalui sebuah buku. Buku yang sesungguhnya jiwa saya butuhkan.

Membaca dapat membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah, dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.” [ kutipan dari bab Faedah Membaca, La Tahzan – DR. ‘Aidh al-Qarni ]

*Cerita yang tertunda. Peristiwanya sudah beberapa bulan lalu lamanya. Bukunya sudah beberapa waktu lalu habis terbaca. Dan masih tinggal di ‘rumah sementara’.

K a r e n a ..

Karena setiap rasa tak menentu hadirnya
Maka ketika resah jiwa mengemuka,
yang seharusnya dilakukan adalah berdoa
Berdoa pada Sang Pemilik Jiwa

___________

Karena larut dalam ketidakjelasan emosi,
adalah salah satu cara musuh kita merasuki hati
Musuh hingga akhir jaman nanti
Yang diciptakan-Nya dari api

___________

Karena manusia memang suka berlebihan
Suka berandai-andai untuk masa depan
Sering kecewa tak berkesudahan
Kadang dihinggapi benih kesombongan

___________

Karena sesungguhnya hidup adalah ujian
Bentuknya bisa senyuman atau tangisan
Atas semua kisah hidup yang telah digariskan
Sandarkan diri pada Sang Pemberi Kehidupan

___________

Karena menempatkan manusia di surga adalah hak Rabb semesta raya
Kebaikan dan keshalehan belum tentu bisa mengantar kesana
Apalagi dengan dosa-dosa yang tak terhitung banyaknya

___________

Jangan pernah berhenti memohon ampunan dan rahmat Allah Ta`ala, Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahakuasa

Semoga akhir perjalanan yang melelahkan ini adalah surga..

* ..kala nurani menasehati diri..

Manusia Kamar  -3-

Tak lama ia dan adiknya tinggal menumpang di rumah kawannya. Rasanya tidak sampai seminggu. Tinggal dengannya sudah pasti bebas biaya, padahal mereka dibuatkan sarapan dan makan malam juga. Semoga Allah membalas semua ketulusan dan kebaikannya, demikian doanya.

Setelah usaha mencari rumah kos yang terus mereka lakukan, akhirnya sang adik mendapatkan informasi dari teman kantornya, bahwa di tempat kos temannya itu ada kamar kosong. Barangkali mau lihat-lihat dulu, demikian kata temannya. Ternyata lokasinya tidak jauh dari kantornya dan tempat kos yang ‘dengan tidak sopannya’ dia tinggalkan. Tak apalah pikirnya, dilihat saja dulu. Walau dalam hatinya ada rencana, seandainya tempatnya kurang nyaman pun, akan ia ambil saja untuk sementara waktu, daripada tinggal gratisan terlalu lama di rumah kawan.

Situasi rumah kosnya agak tidak nyaman. Kamarnya lumayan besar (tanpa jendela, hanya ventilasi saja di atas pintunya), terletak di dalam rumah induk, di lantai atas dan melalui semacam gang menuju ke arah kamar, dengan akses menghirup udara yang rasanya terbatas, jadi terasa berat saat bernafas. 

Dan ada satu hal prinsip yang rasanya tidak akan pernah bisa membuatnya nyaman.
Jadi memang diniatkan untuk sementara saja, sambil mencari lagi kos yang lebih sesuai secara ‘lahir batin’. Paling tidak ia dan adiknya bisa keluar dari rumah kawannya, tak ingin lagi merepotkan terlalu lama.

Ia lupa, dari mana awal mula memperoleh informasi tentang rumah kos di daerah yang lumayan nyaman di kota itu. Informasi yang datangnya bertepatan dengan kepindahannya ke kamar kos tanpa jendela.
Ia dan adiknya memutuskan untuk melihat rumah kos tersebut.

Ternyata benar. Tempatnya nyaman.
Dari luar pagar, terlihat rumahnya cukup besar dengan halaman depan yang luas, tampaknya biasa digunakan untuk tempat parkir.
Lalu mereka melihat ada pintu gerbang di samping rumah, terbuka. Mereka masuk, lalu terlihat halaman yang sepertinya memang sebagai tempat parkir kendaraan. Ada bangunan bertingkat yang terlihat berpintu-pintu, pintu-pintu kamar.

Mereka bertemu ibu kos, melihat satu-satunya kamar kosong yang tersisa, yang letaknya di sudut bangunan bertingkat itu. Kamarnya cukup luas -ternyata memang kamar yang paling besar- dan karena letaknya di sudut maka seolah-olah punya privasi, tidak ada orang yang akan lalu lalang melewati.
Di lantai atas itu sudah ada pantry, lemari es dan dua buah kamar mandi.

Lumayan cukup mahal juga uang sewanya, melebihi dana yang ia anggarkan untuk uang kos dari gajinya. Tapi memang ia patungan dengan adiknya untuk urusan uang sewa -sejak adiknya mulai bekerja- jadi ia pikir urusan keuangan ‘aman’, seandainya mereka memang akan menjadikan rumah kos ini sebagai pilihan.
Menurutnya harga sewa kamar tersebut cukup masuk akal untuk kos dengan tempat senyaman itu, ditambah fasilitas mencuci/setrika dan disediakan asisten rumah tangga yang bisa diminta bantuannya -misalnya untuk membelikan makanan- tapi ‘uang terima kasih’ tidak termasuk hitungan biaya bulanan.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, ia dan adiknya memutuskan untuk pindah kos (lagi) saja. Jadi di tempat kos yang tanpa jendela itu, mereka hanya satu malam. Keesokan harinya, ia mengambil cuti, khusus untuk pindahan.
Sungguh melelahkan demi sebuah kenyamanan.

* to be continued *