Ia dan masa lalu yang bukan miliknya

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Ia paksakan tak menitikkan air mata.

Setiap manusia memiliki masa lalu.
Masa yang bahagia, haru biru bahkan sendu.
Ada yang menyimpannya, berusaha melupakannya, atau kembali mengenangnya bila ada waktu.
Tapi masa itu tak pernah berlalu, akan terus hidup bersamamu, mungkin membentukmu, bahkan bisa jadi justru menghancurkanmu.

Maka jangan berdiam di masa lalu, lihatlah apa yang kini telah dikaruniakan Sang Pencipta untukmu
.
Ingin ia mampu berkata pada seseorang seperti itu, namun nyatanya ia hanya bisa berkata dalam hati yang kelabu.

Ia juga memiliki masa lalu.
Ia juga memahami bahwa seseorang pun memilikinya, sebuah masa lalu.
Tapi salahkah bila ia hanya ingin menjadi bagian saat ini, ingin menjadi yang kini.
Dan ketika masa lalu yang bukan miliknya itu hadir tetiba bagai hantu, lidahnya kelu.
Menerjemahkan ini semua ia tak mampu, mungkin bahkan tak mau.

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Tanpa dipaksa ia meneteskan air mata..

Some memories never leaves your bones, like salt in the sea : they become part of you
– and you carry them  [ paper wings ]

*and she’s carrying them, not her memories but other`s..

Advertisements

Be Gra(y)teful..

Abu-abu. Gray. Perak. Silver.
Uban, begitu dinamakan. Saya termasuk manusia yang telah beruban sejak usia muda. Ya sekitar usia duapuluhan lah kira-kira, usia muda kan ya?

Awalnya hanya ada satu atau dua, yang saat hadirnya membuat gatal kepala. Saya pikir kena kutu. Tapi setelah dilihat, ternyata ada ‘harta’ di kepala, rambut perak.
Ibu saya bilang, bahwa memang tumbuh uban kadang bisa membuat gatal.
Saat itu saya tidak merasa terganggu, karena jumlahnya tak sampai habis dalam sepuluh hitungan. Namun lama kelamaan bertambah banyak. Sekarang justru rambut saya yang berwarna hitamlah yang bisa dihitung dan jadi ‘minoritas’.

Untuk mencari informasi mengenai ‘harta’ di kepala saya -seperti biasa- saya berselancar di dunia maya.

Dari sumber yang saya baca (detikCom), dijelaskan bahwa setiap rambut memiliki akar yang berisi struktur seperti tas kecil atau disebut dengan folikel rambut. Folikel rambut ini mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin, yang bertanggung jawab terhadap warna rambut. Seiring berjalannya waktu, sel-sel pigmen di dalam folikel rambut akan berkurang yang membuat rambut tidak lagi memiliki melanin yang banyak. Kondisi inilah yang mengubah warna rambut menjadi abu-abu atau putih.

Lalu pertanda apakah si rambut abu-abu yang hadir begitu dini?
Diterangkan pula dalam artikel tersebut bahwa secara genetis setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan uban (atas ijin Allah). Beberapa kondisi bisa membuat uban muncul lebih awal, diantaranya faktor genetik, memiliki penyakit anemia, gangguan metabolisme, menopause dini dan juga merokok. Hmm.. dari semua yang disebutkan, rasanya bagi saya lebih nyaman bila sebab hadirnya uban ‘di awal waktu’ ini karena fakfor genetis, bukan yang lainnya, semoga memang demikian (bila Allah ijinkan).

Hadirnya rambut abu-abu adalah sebuah karunia, entah datang saat usia senja -seperti umumnya- atau tiba ketika masih terbilang muda, qaddarullah.
Mengenai uban ini juga ada petunjuknya dalam syari’at Islam. (Sumber : rumayshoCom)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.”
{ HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan }

Mahabesar Allah yang telah memberikan kebaikan luar biasa ‘hanya’ dari rambut yang tak lagi hitam warnanya, bahkan walau hanya sehelai saja.

Kemudian apa yang harus kita lakukan dengan rambut istimewa itu? Yang utama adalah jangan dicabut. Karena ‘harta’ di kepala itu akan memberikan hadiah luar biasa nantinya, insyaallah.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”
{ HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih }

Dan apa yang dilarang dalam syari’at Islam pasti mengandung kebaikan. Karena dari segi kesehatan pun dianjurkan untuk tidak mencabut uban. Mengapa? karena bisa merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut. Jika akar rambut ini rusak nantinya dapat memicu terjadinya infeksi.
Selain itu kebiasaan mencabut uban juga bisa membuat rambut menjadi tipis yang menyebabkan rambut uban akan terlihat lebih banyak, meskipun sebenarnya jumlah uban yang muncul di rambut itu tetap (detikCom).

Jadi harus bagaimana dengan kepala yang sudah keperak-perakan ini, bolehkah diwarnai? Ternyata boleh, alhamdulillah. Tapi tunggu dulu, ini pun telah diatur secara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” { HR. Muslim }

Jadi mari mewarnai, karena selain untuk mempercantik diri –for mahram only– juga untuk menyelisihi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.”

{ Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim }

So, be gra(y)teful.
Alhamdulillah `ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

Percakapan

P : hai,..
L : aku sudah baca tulisanmu
P : terus?
L : bagus
P : itu saja?
L : memang kalau aku tanya perihal tulisanmu, kamu mau jawab?
P : tergantung pertanyaannya
L : itulah.. makanya aku tak akan bertanya
P : kok gitu?
L : gitu bagaimana?
P : jadi tidak mau tahu?
L : memang apa yang aku harus tahu?
P : ya apa saja, apa yang kamu rasa ingin kamu tahu
L : bagaimana caranya aku tahu?
P : bertanya, kalau menduga-duga saja tak akan jadi puas rasa ingin tahunya
L : tapi tidak semua pertanyaan akan ada
 jawabannya
P : kok gitu?
L : kamu sendiri tadi yang bilang, jawaban tergantung pertanyaan
P : ya cobalah kamu tanya dulu padaku
L : sudahlah,..
P : kamu memang tidak mau tahu
L : karena kamu tidak ingin aku tahu
P : aku mau tahu, seberapa besar rasa ingin tahumu
L : seberapa pentingnya keinginanku untuk tahu bagimu?
P : kamu selalu bertanya
L : dan kamu tidak pernah ingin memberi jawaban
P : lalu, akan berhenti bertanya?
L : (diam)
P : jangan bosan bertanya, karena suatu saat nanti mungkin aku akan bercerita
L : baiklah,..

__________

P ; perempuan
L ; laki-laki

*terilhami dari sebuah percakapan, pada suatu sore seusai hujan

Tentang ia

Ia kehilangan daya
Bersusah payah menemukan cara
Pernah diam atau pura-pura tertawa
Lelah jiwanya tak ingin tampil di muka

Ia tak mampu merangkai rasa
Tak tahu juga bagaimana menemukan kata
Sementara antrian peristiwa terus memenuhi kepala
Hingga ia selalu bertanya, akankah nanti ada jeda ?

Ia sungguh mampu mengelabui
Dalam senyum manis ia bersembunyi
Melewati jalannya sendiri, dalam langkah sunyi
Bersama langit -biru atau kelabu- yang kadang ia tatapi

Ia hanya ingin bisa sejenak pergi
Hanya bercakap-cakap dengan hati
Atau berharap bisa berteriak sesekali
Atau mungkin cukup ditemani air mata hingga pagi..

Ia terus bertanya, kemana ini semua akan bermuara ?

Para “last minute’rs” dan para “late’rs”

Sore itu saat matahari mulai tak menampakkan diri dan awan pun masih menahan hujan, nampak orang-orang bergegas, seakan berlomba ke sebuah tujuan. Bersegera memasuki pintu masuk dan peron stasiun kereta api. Bersegera menuju kereta api yang  waktu keberangkatannya sebentar lagi. Orang-orang yang datang lebih awal sudah masuk lebih dulu ke dalam gerbong dan berada di sekitar tempat duduk yang nampaknya tak menyisakan lagi bangku kosong.

Setengah berlari beberapa orang ‘mengejar’ masuk stasiun di tengah suara petugas yang berseru bahwa kereta api akan segera meninggalkan tempat. Petugas lainnya terlihat berkoordinasi dengan awak kereta api untuk menahan sebentar agar kereta jangan dulu berangkat.

Untuk mengejar keberangkatan kereta api dan agar tidak tertinggal darinya, sebagian besar orang rela berpagi-pagi datang dan mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal. Waktu keberangkatan dari rumah atau last point ke stasiun kereta api diperhitungkan dengan matang termasuk pertimbangan jarak dan waktu tempuh perjalanan menuju stasiun.

Terbayang fenomena yang sama di terminal bis, bandara, atau bahkan tempat kerja, mewakili tempat-tempat keberangkatan di mana orang-orang bersemangat dan bergegas tak ingin tertinggal keberangkatan menuju tujuan perjalanannya.

Termenung sejenak di tengah hiruk-pikuk stasiun itu. Sesaat serasa hening di tengah keramaian, seperti pengeras suara yang sedang dihentikan bunyinya. Suasana sekeliling serasa sedikit melamban, seperti frame display yang diputar dalam gerak lambat.

Menerawang di batas kesadaran. Memikirkan perjalanan yang lebih panjang dari ujung kehidupan. Tapi apakah kita sudah [lebih] bersungguh-sungguh menyiapkan bekal? Di antara bekal-bekal, yang segera terlintas adalah perjalanan harian ke masjid -bagi pria yang tidak punya udzur syar’i- untuk memenuhi panggilan-Nya dan amal kebaikan lainnya.

Hadir tanya dalam diri, apakah semangat kita sudah seperti ketika hendak menempuh perjalanan di dunia dengan menggunakan kereta? Datang lebih awal dan bersegera dalam kebaikan agar tidak tertinggal keberangkatan? Berpagi-pagi dan menyiapkan semuanya di depan?

Karena sifatnya yang rutin dan harian -pagi siang dan malam-, shalat (berjama’ah di masjid) mungkin jadi malah kadang ‘terabaikan’ persiapannya. Amal kebaikan yang lain mungkin tidak terlihat persis time frame/limit-nya, yang malah jadi lebih samar kalau menunda-nundanya.

Khawatirnya hampir di semua lini lebih sering seperti penumpang kereta api yang datang di menit-menit terakhir sebelum keberangkatan, atau malah yang terlambat karena kereta telah berangkat.

Sekali dua kali terlambat mungkin bisa dimaafkan (iya kah?). Tapi jika sampai terus menerus maka sepertinya ada yang perlu dipetakan (ulang). Yang jika dibiarkan dan tidak segera diobati, khawatirnya jadi kebiasaan.

Semangat dan kesadaran bisa jadi tetap sehat, tapi kadang yang terlupa adalah persiapan yang baik dan mengantisipasi penyebab tertunda dan terlambat. Karena biasanya perlu usaha lebih untuk mengembalikan ke haluan dan menjaga ‘stamina’, lebih dari usaha ketika mengarahkan pada awalnya.

Dalam hal ini jangan sampai kita tercitrakan di hadapan Yang Maha Tahu dan juga para penduduk langit, bahwa kita termasuk para “last minute’rs” dan para “late’rs” -yang datang di menit-menit terakhir atau yang malah terlambat tadi-, dari kebaikan-kebaikan yang mungkin dilakukan. Maka sudah saatnya memacu diri di batas (maksimal) kemampuan, sehingga tidak terluput bekal untuk perjalanan panjang yang akan tidak berkesudahan..

It’s been a while..

It’s been a while since your last talking
It’s been a while since your last facing

The air became cold after its charming
The water was freezing after its flowing

Maybe because of a lot of things
Maybe because of a lot what you think

While you were self-contemplating
While you were also site-[re]constructing

Kind of loosing the focus in multi-tasking
Kind of burried in the retained feelings

Though you see now again the door opening
Though you feel now again the ice melting

The desires and the lines were like circling
The ground and the horizon were like rolling

Struggling to return to the building
Struggling to start and re-evaluating

As if you were message-expressing
As if you were in-front-of-mirror talking

J  a  r  a  k

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Ketika semuanya terasa begitu berat
Aku merasa kian merentang jarak

Tak ingin bergerak
Menyerahku dalam rengkuh ketakberdayaan
Membiarkan sepi saja yang menjadi kawan
Merelakan jiwa ini kian terpasak

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Terlupakan aku pada sesuatu yang sesungguhnya teramat dekat
Lalu mengapa akulah yang membuat jarak ?

Perlahan kuberanjak,
mengajak jiwaku bergerak
berusaha memutuskan jarak..

***

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.”


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[ Qs. al-Baqarah : 186 ]