P e s a n

Lembut sang bayu menyapaku,
mengusap halus dan berbisik sendu,
“Tak ada lagi bait rindu untukmu.”

Lalu rintik gerimis tiba,
pada sebuah senja yang tak jingga.
“Untuk apa menanti yang tiada?”
Begitu ia bertanya.

Saat hitam menyelimuti angkasa,
aku mendengar suara,
“Usai sudah semua, tak perlu kau tanya mengapa.”

Dan aku terjebak dalam sunyi.
Sendiri.

Advertisements

R a p u h

Senja berlabuh
Jingganya menimpaku hingga terjatuh
Mengingat kau yang begitu jauh
Dan tak akan pernah mampu aku sentuh…

Lalu rinduku pun kian merapuh,
luruh,
runtuh,..

Pada yang tak biasa..

Dimanakah kamu?
Adakah suatu yang tak biasa juga padamu?

Aku kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.

Kadang kumerasa terlalu banyak bicara dengan merangkaikan terlalu banyak aksara.
Lalu jemariku pun tak mampu membalas kalimatmu walau sekedar sepatah kata.

Dimanakah kamu?
Adakah rasa yang tak biasa ini juga milikmu?

Dan pada akhirnya hanya ada kata-kata tanpa suara dalam kepala, antara aku dan kamu..
___________________________

* tulisan lama yang kembali terbaca

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Perempuan senja kala

​Setiap matahari hampir kembali, perempuan itu ingin menari

Ingin menari di antara padang ilalang
Ingin menari di antara debur ombak
Ingin menari di tengah derasnya hujan
Ingin menari di atas tanah gersang
Ingin menari di atas serpihan kaca yang berserakan

Setiap langit mulai menjadi jingga, perempuan itu ingin bisa hanya diam

Mendiamkan raga yang rasanya ingin terbang
Mendiamkan pikiran yang terus berjuang dalam kewarasan
Mendiamkan hati yang terlalu sering menelan kepahitan hingga ingin memuntahkan
Mendiamkan kenangan yang menjerit nyaring karena ingin didengar

Akhirnya waktu senja raya tiba,
Tak ada lagi yang diinginkannya
Semua inginnya tak bisa menjadi ada
Hanya tercipta sebaris doa dalam geliat ribuan rasa, dalam jerat ribuan asa
Semoga esok masih bisa memeluk senja

Itu saja