Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Perempuan senja kala

​Setiap matahari hampir kembali, perempuan itu ingin menari

Ingin menari di antara padang ilalang
Ingin menari di antara debur ombak
Ingin menari di tengah derasnya hujan
Ingin menari di atas tanah gersang
Ingin menari di atas serpihan kaca yang berserakan

Setiap langit mulai menjadi jingga, perempuan itu ingin bisa hanya diam

Mendiamkan raga yang rasanya ingin terbang
Mendiamkan pikiran yang terus berjuang dalam kewarasan
Mendiamkan hati yang terlalu sering menelan kepahitan hingga ingin memuntahkan
Mendiamkan kenangan yang menjerit nyaring karena ingin didengar

Akhirnya waktu senja raya tiba,
Tak ada lagi yang diinginkannya
Semua inginnya tak bisa menjadi ada
Hanya tercipta sebaris doa dalam geliat ribuan rasa, dalam jerat ribuan asa
Semoga esok masih bisa memeluk senja

Itu saja

Seorang pendosa dan langit-Nya

Luasmu dalam pandang mataku
Kutengadah, lalu mataku membasah
Kutatap birumu dalam sedu sedanku
Kecilnya diriku, jauhnya dirimu,
tak bisa aku menyentuhmu

Kaulah atap yang selalu kutatap,
dalam lelah yang tak pernah menjadi sudah,
kala hilang daya ingin menyandarkan raga
ketika beban ini terasa berat karena dosa yang tak henti kubuat sementara kematian kian mendekat

Langit biru memandangiku
Aku sebut nama-Mu,
dalam bisik perlahan
ditemani isak tertahan
dengan dosa dalam pelukan

Duhai Sang Mahacinta,
Yang bersinggasana diatas arsy-Nya yang agung, yang kasih sayangnya tak terhingga,
Aku terlalu banyak memandang dunia, yang gemerlap tapi sesungguhnya penuh tipu daya dan aku tersesat didalamnya
ampuni aku yang mengabaikan-Mu sekian lama
merasa tak sepantasnya mengiba kala sesal menjelma
merasa begitu nista untuk bersimpuh memohon karunia

Ampuni aku wahai Yang Mahakuasa,
Aku lupa, aku buta, bahwa ampunan-Mu seluas jagat raya, ilmu-Mu meliputi alam semesta
Sebanyak buih-buih di lautan pun dosaku, Engkau akan mengampuninya
Hanya takwa yang Engkau minta
Tapi betapa nafsuku meraja dan kepayahan untuk menyajikannya

Langit biru menatapku,
seorang pendosa yang mengharap surga…

Teruntuk kawanku,..

Untuk seorang kawan, akan aku ringkaskan penggalan percakapan. Percakapan yang ada justru karena jauhnya jarak yang terciptakan, karena putaran bumi membuat waktu jadi perbedaan.

Akan aku sampaikan bahwa percakapan itu ternyata kumpulan kalimat-kalimat yang seru. Hingga ketika membaca lagi, aku jadi tertawa sendiri.

Untuk seorang kawan, akan aku sebutkan beberapa hal yang indah dalam percakapan itu. Ada awan, langit, senja..

Kawanku, pernah kutitipkan salam untuk langit di lain belahan bumi padamu, sudahkah engkau sampaikan?