Tentang sunyi

Aku hilang daya,
bagai cahaya yang kian meredup,
lalu lenyap dilahap gulita.

Aku kehilangan kata,
tak bisa menemukan susunan aksara
yang mampu menerjemahkan bahasa rasa.

Aku rindu sunyi yang berpesta.
Padanya aku bisa mendengar nyanyian suara.
Didalamnya aku bisa melihat kata-kata berdansa.

Aku ingin sunyi terus berpesta,
biar sang jiwa bahagia..

Advertisements

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

M u a k

Aku kira semua sudah tidak ada. Aku rasa semua sudah kutelan hingga tiada

Waktu itu, aku penuhi seluruh otakku dengan logika-logika

Saat itu, jiwaku seolah disiksa, diminta kembali pulang, diseret paksa

Lalu hatiku mempersembahkan drama-drama sakit jiwa berseri-seri banyaknya

Airmata dan tawa lega saling unjuk rasa

Lalu mengapa kini logika, drama, dan urusan sakit jiwa kembali mengemuka ?  

 Tak ada airmata, apalagi tawa, tapi tanya

Bukankah sudah tidak ada ?
Bukankah sudah aku telan semua hingga tiada ?

Sudah terlalu banyak, hingga beranak pinak
Aku merasakan nyeri di ulu hati,
Melesak hingga dada terasa sesak

Aku sudah muak..

*when something keep on going, like a curse that never ending..