Ia dan masa lalu yang bukan miliknya

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Ia paksakan tak menitikkan air mata.

Setiap manusia memiliki masa lalu.
Masa yang bahagia, haru biru bahkan sendu.
Ada yang menyimpannya, berusaha melupakannya, atau kembali mengenangnya bila ada waktu.
Tapi masa itu tak pernah berlalu, akan terus hidup bersamamu, mungkin membentukmu, bahkan bisa jadi justru menghancurkanmu.

Maka jangan berdiam di masa lalu, lihatlah apa yang kini telah dikaruniakan Sang Pencipta untukmu
.
Ingin ia mampu berkata pada seseorang seperti itu, namun nyatanya ia hanya bisa berkata dalam hati yang kelabu.

Ia juga memiliki masa lalu.
Ia juga memahami bahwa seseorang pun memilikinya, sebuah masa lalu.
Tapi salahkah bila ia hanya ingin menjadi bagian saat ini, ingin menjadi yang kini.
Dan ketika masa lalu yang bukan miliknya itu hadir tetiba bagai hantu, lidahnya kelu.
Menerjemahkan ini semua ia tak mampu, mungkin bahkan tak mau.

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Tanpa dipaksa ia meneteskan air mata..

Some memories never leaves your bones, like salt in the sea : they become part of you
– and you carry them  [ paper wings ]

*and she’s carrying them, not her memories but other`s..

Tentang ia

Ia kehilangan daya
Bersusah payah menemukan cara
Pernah diam atau pura-pura tertawa
Lelah jiwanya tak ingin tampil di muka

Ia tak mampu merangkai rasa
Tak tahu juga bagaimana menemukan kata
Sementara antrian peristiwa terus memenuhi kepala
Hingga ia selalu bertanya, akankah nanti ada jeda ?

Ia sungguh mampu mengelabui
Dalam senyum manis ia bersembunyi
Melewati jalannya sendiri, dalam langkah sunyi
Bersama langit -biru atau kelabu- yang kadang ia tatapi

Ia hanya ingin bisa sejenak pergi
Hanya bercakap-cakap dengan hati
Atau berharap bisa berteriak sesekali
Atau mungkin cukup ditemani air mata hingga pagi..

Ia terus bertanya, kemana ini semua akan bermuara ?

I am ..

I am a tale, I am a book, written in different languages and styles

I can`t be read, can`t be understood,
neither by me nor the greatest of minds

I am too big, I am too small, to be processed or seen by the naked eye

I am too dim, I am too bright, to appear in the shadow or the sunshine

(Author : Sanober Khan)

** 

Duhai Rabb semesta raya, ..

atas segala rasa yang mengemuka tanpa aku minta, mohon ampuni hamba

atas semua cara menerjemahkan air mata hingga terlupa akan kasih sayang-Mu, mohon maafkan aku

atas segala nikmat yang Engkau karuniakan hingga detik ini dan tidak aku syukuri, hamba yang sombong ini mohon diampuni

“Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampaui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.”  { HR. Muslim No. 771 }