Pada yang tak biasa..

Dimanakah kamu?
Adakah suatu yang tak biasa juga padamu?

Aku kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.

Kadang kumerasa terlalu banyak bicara dengan merangkaikan terlalu banyak aksara.
Lalu jemariku pun tak mampu membalas kalimatmu walau sekedar sepatah kata.

Dimanakah kamu?
Adakah rasa yang tak biasa ini juga milikmu?

Dan pada akhirnya hanya ada kata-kata tanpa suara dalam kepala, antara aku dan kamu..
___________________________

* tulisan lama yang kembali terbaca

Advertisements

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Libur telah tiba (?)

Terlalu betah di rumah.

Ternyata hal itu lumayan ‘merepotkan’ ketika musim liburan tiba. Tak tahu harus mengajak kemana ketika keluarga kumpul semua. Selain memang tidak pernah menjelajah daerah tempat tinggal -kalau niat bisa saja mencari informasi- juga memang pada dasarnya rasa malas menggerogoti bila liburan seperti ini. Terbayang jalanan padat oleh bermacam kendaraan, lokasi wisata yang akan penuh manusia, kebersihan kamar mandi kurang (tidak) terjaga, antrian untuk beribadah sholat di musholla/mesjid yang kecil tempatnya, berdesak-desakkan pula. Aah.. belum juga apa-apa, rasa tidak nyaman sudah jadi juara.

Saya lebih nyaman justru selama liburan tinggal saja di rumah. Di saat orang-orang memenuhi segala macam antrian, saya cukup bahagia jadi orang rumahan kala liburan. Tapi yang jadi masalah adalah ketika si kecil mengeluh bosan. Baru saya tersadar, bukan saya yang sedang menikmati liburan -karena setiap hari saya ‘libur’ di rumah- tapi justru anak sekolahan yang butuh hiburan, karena setiap hari berkutat dengan pelajaran.

Bingung juga, mau jalan-jalan kemana. Mengajak pergi ke mall, hmm.. bukan liburan pun sudah biasa beredar di mall. Berenang? Wah, sudah terbayang kumpulan manusia dalam kolam, jadi macam es cendol. Ke taman bermain yang outdoor, terkendala dengan cuaca. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, hampir beberapa malam, bahkan hingga pagi, kota ini diguyur hujan yang lumayan deras.

Baiklah, saya sadari, memang saya si manusia rumahan, yang akhirnya kesulitan membuat acara liburan, selain dengan santai-makan-tiduran, atau cukup ditemani bacaan. Bahkan sekedar keluar membeli penganan ke depan pun, saya enggan. Untuk masakan, saya pesan pada asisten rumah tangga untuk dibuatkan. Bila ingin jajan, saya minta tolong pada anak-anak yang sudah besar untuk membelikan. Bahkan lagi, saya jarang sekali keluar melebihi pagar rumah. Berlama-lama duduk di teras pun tak betah. Apakah dalam diri saya ada yang salah? Entahlah.

Dan kini, ketika musim liburan tiba, saya mati gaya. Harus pergi kemana? Apalagi ketika kata ‘terserah’ telah disampaikan oleh keluarga yang saya mintai pendapatnya.

Saya menghitung hari, kapankah liburan ini resmi diakhiri.

***

Tulisan ini dibuat saat liburan lalu. Tapi karena banyak hal, baru teringat sekarang untuk ‘ditayangkan’. Akhirnya kami keluar rumah juga, alhamdulillah, dari hasil pencarian ditemukan lokasi wisata yang dekat dengan tempat tinggal, Kampung 99 Pepohonan namanya. Nanti mungkin bisa saya ceritakan, insyaallah.

Percakapan

P : hai,..
L : aku sudah baca tulisanmu
P : terus?
L : bagus
P : itu saja?
L : memang kalau aku tanya perihal tulisanmu, kamu mau jawab?
P : tergantung pertanyaannya
L : itulah.. makanya aku tak akan bertanya
P : kok gitu?
L : gitu bagaimana?
P : jadi tidak mau tahu?
L : memang apa yang aku harus tahu?
P : ya apa saja, apa yang kamu rasa ingin kamu tahu
L : bagaimana caranya aku tahu?
P : bertanya, kalau menduga-duga saja tak akan jadi puas rasa ingin tahunya
L : tapi tidak semua pertanyaan akan ada
 jawabannya
P : kok gitu?
L : kamu sendiri tadi yang bilang, jawaban tergantung pertanyaan
P : ya cobalah kamu tanya dulu padaku
L : sudahlah,..
P : kamu memang tidak mau tahu
L : karena kamu tidak ingin aku tahu
P : aku mau tahu, seberapa besar rasa ingin tahumu
L : seberapa pentingnya keinginanku untuk tahu bagimu?
P : kamu selalu bertanya
L : dan kamu tidak pernah ingin memberi jawaban
P : lalu, akan berhenti bertanya?
L : (diam)
P : jangan bosan bertanya, karena suatu saat nanti mungkin aku akan bercerita
L : baiklah,..

__________

P ; perempuan
L ; laki-laki

*terilhami dari sebuah percakapan, pada suatu sore seusai hujan

Kisah tak sampai

Aku sudah membuatkanmu sebuah cerita, merangkai aksara menjadikannya kata-kata, berbaris-baris banyaknya
Menggambarkan kisah yang pernah ada, memberinya jiwa
Tapi entah dimana kamu berada, mungkinkah kamu akan membacanya?

Aku sudah menyiapkan cerita lagi, yang akan kutulis nanti
Nanti ketika jari jemariku ingin menari, mengisahkan segelas coklat panas dan secangkir kopi,
mengisahkan senja yang tak jingga warnanya, mengisahkan titik-titik air hujan pada kaca jendela

Harus bercerita apalagi aku?
Kini semua hanya tentang aku
Aku yang menunggu angin mengabarkan berita tentangmu
Tapi hingga kini tak kudengar bisikan sang bayu

Tak ingin lagi aku bercerita
Akan kurangkai semua rasa dalam larik-larik doa
Semoga mengangkasa hingga ke langit-Nya
Langit yang akan berwarna jingga bila senja tiba..

*coretan beberapa tahun lalu, dengan sedikit perubahan yang dirasa perlu

A n t r i

Langit kelabu. Kami berjalan bergegas menuju sesuatu. Lewat gang-gang kecil, di kanan kirinya rumah-rumah yang saling berhimpitan dan berpintu kayu. Jalanannya tidak beraspal, tampak seperti diplester dan sudah berlubang-lubang, nampak tanah di dalamnya.

Usai hujan deras kala itu, namun masih menyisakan rintik gerimis, tipis. Kami mengenakan sandal, memakai kaos kaki -yang rasanya cukup tebal- tidak berpayung atau bertopi, hanya kerudung hitam panjang yang menutup kepala kami.

Ada genangan-genangan air di sana sini. Sesekali aku harus menarik sedikit baju hitam panjangku, agar tidak terlalu basah dan kotor terkena percikan tanah. Tak bisa kami jalan beriringan, karena gangnya hanya cukup untuk satu orang. Jadi dia berjalan di belakangku, aku gandeng tangannya, erat.

Kami sampai di tempat tujuan. Antrian sudah sangat panjang. Semuanya perempuan, sepertinya ibu-ibu muda, dengan anak perempuan dalam gandengan dan gendongan.
Aku pun demikian, bersama anak perempuanku.

“Panjang ya antriannya, coba kita cari jalan lain”, kataku padanya. Dia melihat antrian, lalu turut berjalan lagi bersamaku, tangannya masih aku genggam.
Aku berjalan kembali ke arah kami tadi datang, melewati sebuah rumah dengan pintu terbuka. Nampak kardus-kardus bertumpuk tak teratur. Lalu kami masuk. Aku lihat ada seorang laki-laki berperawakan sedang, berambut hitam agak ikal yang panjangnya hampir sebahu, kulitnya sawo matang, wajahnya terlihat ramah. Ia memakai kaos putih yang terlihat sudah kumal dan celana selutut warna coklat muda, mengenakan sandal.
“Pak, boleh saya ambil kardusnya?”, tanyaku padanya.
“Oh, tidak boleh, harus lewat antrian”, jawabnya dengan senyuman.
“Baik pak, terima kasih”, aku mencoba tersenyum, lalu kami pergi.
Antrian perempuan-perempuan yang menggandeng dan menggendong anak perempuannya tadi begitu panjang, tak juga mulai dibagikan apa yang mereka inginkan. Sementara kardus-kardus itu bertumpuk-tumpuk, menanti dikeluarkan. Hatiku berujar.

Kami kembali lagi menuju antrian.
Aku tidak ingin turut mengantri. Kuperhatikan tempat ini, yang semacam lapangan, dengan rumah-rumah saling berhimpitan di sisi kiri dan kanan. Lalu mataku terhenti. Ternyata antrian ini ada di depan sebuah masjid. Aku menyadarinya ketika melihat ke arah atas, ternyata ada menara-menara dan kubah di atasnya. Masjid dengan paduan warna-warna kecoklatan, abu-abu dan hitam.

“Sholat aja dulu yuk..”, ajakku pada putri mungilku. Dengan wajah yang dibingkai kerudung hitam, dan terlihat lelah,  ia mengangguk.
Kami menuju masjid, menaiki beberapa anak tangga. Setelah melepas alas kaki, kami masuk ke area khusus wanita. Sepi, hanya ada satu atau dua orang perempuan yang memakai mukena sedang duduk-duduk saja. Mungkin sudah selesai sholat atau sedang menunggu waktu sholat.

Kami memilih duduk dulu sebentar, di atas sajadah-sajadah yang telah rapi tergelar.
Lalu aku melihat seorang perempuan yang sangat kukenal. Kuajak anakku mendekat padanya.
“Itu ada nenek..”, anakku tersenyum, senang.
Ibuku tersenyum, sambil melipat mukena berwarna abu-abu yang dihiasi renda-renda.

Tak sempat aku bertanya, mengapa ibuku bisa sampai di masjid ini, bahkan lingkungan ini sangat asing bagi kami.
Tak sempat membuat percakapan apapun, karena aku terbangun.

Terbangun dengan banyak pertanyaan, pertanyaan yang tak perlu dan tidak akan menemukan jawaban.



Alhamdullillahilladzi afaaniy fii jasadiy, wa rodda alayya ruhiy, wa adzina lii bi dzikrih.”
{ Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya. }

(HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani ;
 Sumber : rumaysho(dot)com)

When they met..

When the ladies met for lunch or just for a share
They actually need a bit brave and also a bit dare

With all belongings they have to take care
Among the crowdy people in the car, train, or fare

Although the distance could make them separated
Or through phone they can be each other contacted

It doesn’t hold the friendship they have ‘constructed’
And the postponed plan to meet was finally executed

Pray and hope for their everlasting relationship
As it needs sacrifice which may not be cheap

With the frame of genuine and sincere friendship
And with the truth which should direct the “life ship”

(Dedicated for them)