Be Gra(y)teful..

Abu-abu. Gray. Perak. Silver.
Uban, begitu dinamakan. Saya termasuk manusia yang telah beruban sejak usia muda. Ya sekitar usia duapuluhan lah kira-kira, usia muda kan ya?

Awalnya hanya ada satu atau dua, yang saat hadirnya membuat gatal kepala. Saya pikir kena kutu. Tapi setelah dilihat, ternyata ada ‘harta’ di kepala, rambut perak.
Ibu saya bilang, bahwa memang tumbuh uban kadang bisa membuat gatal.
Saat itu saya tidak merasa terganggu, karena jumlahnya tak sampai habis dalam sepuluh hitungan. Namun lama kelamaan bertambah banyak. Sekarang justru rambut saya yang berwarna hitamlah yang bisa dihitung dan jadi ‘minoritas’.

Untuk mencari informasi mengenai ‘harta’ di kepala saya -seperti biasa- saya berselancar di dunia maya.

Dari sumber yang saya baca (detikCom), dijelaskan bahwa setiap rambut memiliki akar yang berisi struktur seperti tas kecil atau disebut dengan folikel rambut. Folikel rambut ini mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin, yang bertanggung jawab terhadap warna rambut. Seiring berjalannya waktu, sel-sel pigmen di dalam folikel rambut akan berkurang yang membuat rambut tidak lagi memiliki melanin yang banyak. Kondisi inilah yang mengubah warna rambut menjadi abu-abu atau putih.

Lalu pertanda apakah si rambut abu-abu yang hadir begitu dini?
Diterangkan pula dalam artikel tersebut bahwa secara genetis setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan uban (atas ijin Allah). Beberapa kondisi bisa membuat uban muncul lebih awal, diantaranya faktor genetik, memiliki penyakit anemia, gangguan metabolisme, menopause dini dan juga merokok. Hmm.. dari semua yang disebutkan, rasanya bagi saya lebih nyaman bila sebab hadirnya uban ‘di awal waktu’ ini karena fakfor genetis, bukan yang lainnya, semoga memang demikian (bila Allah ijinkan).

Hadirnya rambut abu-abu adalah sebuah karunia, entah datang saat usia senja -seperti umumnya- atau tiba ketika masih terbilang muda, qaddarullah.
Mengenai uban ini juga ada petunjuknya dalam syari’at Islam. (Sumber : rumayshoCom)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.”
{ HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan }

Mahabesar Allah yang telah memberikan kebaikan luar biasa ‘hanya’ dari rambut yang tak lagi hitam warnanya, bahkan walau hanya sehelai saja.

Kemudian apa yang harus kita lakukan dengan rambut istimewa itu? Yang utama adalah jangan dicabut. Karena ‘harta’ di kepala itu akan memberikan hadiah luar biasa nantinya, insyaallah.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”
{ HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih }

Dan apa yang dilarang dalam syari’at Islam pasti mengandung kebaikan. Karena dari segi kesehatan pun dianjurkan untuk tidak mencabut uban. Mengapa? karena bisa merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut. Jika akar rambut ini rusak nantinya dapat memicu terjadinya infeksi.
Selain itu kebiasaan mencabut uban juga bisa membuat rambut menjadi tipis yang menyebabkan rambut uban akan terlihat lebih banyak, meskipun sebenarnya jumlah uban yang muncul di rambut itu tetap (detikCom).

Jadi harus bagaimana dengan kepala yang sudah keperak-perakan ini, bolehkah diwarnai? Ternyata boleh, alhamdulillah. Tapi tunggu dulu, ini pun telah diatur secara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” { HR. Muslim }

Jadi mari mewarnai, karena selain untuk mempercantik diri –for mahram only– juga untuk menyelisihi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.”

{ Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim }

So, be gra(y)teful.
Alhamdulillah `ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

J  a  r  a  k

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Ketika semuanya terasa begitu berat
Aku merasa kian merentang jarak

Tak ingin bergerak
Menyerahku dalam rengkuh ketakberdayaan
Membiarkan sepi saja yang menjadi kawan
Merelakan jiwa ini kian terpasak

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Terlupakan aku pada sesuatu yang sesungguhnya teramat dekat
Lalu mengapa akulah yang membuat jarak ?

Perlahan kuberanjak,
mengajak jiwaku bergerak
berusaha memutuskan jarak..

***

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.”


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[ Qs. al-Baqarah : 186 ]

R e c h a r g e

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  { Qs. Al Baqarah: 216 }
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikian yang terjadi.
Pada suatu hari di bulan pertama tahun ini, saat sedang santai sore menikmati kopi, tetiba.. braaak!! Qaddarullah, ternyata atap rumah bermasalah, ambruk. Semua baik-baik saja, tak ada yang tertimpa, karena tidak -belum- sampai ambruk ke bawah, alhamdulillah.
Demi keamanan penghuni, kami harus lekas pindahan. Serba mendadak. Lelah melanda.

Singkatnya, dalam waktu satu minggu dari atap roboh, kami telah pindah. Tinggal di rumah kontrakan selama rumah dalam perbaikan. Allah berikan kemudahan. Mudah memperoleh tukang, gampang mencari rumah kontrakan, alhamdulillah.

Di rumah ‘baru’ ini -yang lebih besar dari rumah kami, alhamdulillah- tentunya fasilitas hiburannya tak bisa seperti di rumah sendiri. Karena layanan televisi berlangganan terpaksa sementara berhenti.
Maka rasanya seperti ‘kurang kegiatan’. Akhirnya saya menyadari, betapa banyaknya waktu saya selama ini di depan layar kaca (kadang saya selingi dengan membaca). Buktinya, saya merasa begitu ‘menganggur’ ketika semua tugas-tugas rumah telah selesai.

Saya memutuskan untuk membaca. Tapi baca apa? Buku-buku yang baru saya beli sudah dibaca semua. Agak susah memang dengan kebiasaan diri sendiri, kalau membaca sulit berhenti, sehingga bila membeli beberapa buku dengan harapan bisa ‘awet’ mengisi waktu, akhirnya dengan cepat habis terbaca. Saya pernah membaca buku, sekitar tujuh ratusan halaman, dalam waktu dua hari saya selesaikan. Tentunya tanpa melupakan tugas dan kewajiban. Namun kembali lagi pada isi bukunya. Saya pernah juga membeli buku, saya kira akan menarik untuk membacanya, ternyata malah membosankan, saya tinggalkan setengah jalan.

Saya akhirnya melihat-lihat lagi koleksi buku dalam kardus. Karena akan tinggal tak terlalu lama, jadi hanya keperluan-keperluan utama yang dibuka dan ditata. Sementara buku-buku tetap dibiarkan di dalam kardus saja.
Saya berpikir untuk membaca ulang saja buku lama yang menarik, daripada tak ada bacaan. Saya angkat tumpukan buku, saya ambil satu buku, ‘hmm.. jangan yang ini’, ambil lagi buku, ‘ah, malas baca yang ini diulang lagi‘, begitu selama beberapa waktu, memilih-milih buku. Dan akhirnya saya mendapatkan buku La Tahzan, karya DR. ‘Aidh al-Qarni, alhamdulillah. Saya langsung merasa bersemangat ingin membacanya kembali.

Saya belajar lagi. Saya merasa seolah-olah seperti baru membeli dan membacanya. Sama sekali saya tak teringat faedah-faedah luar biasa darinya, padahal buku itu sudah lama sekali saya beli, langsung saya baca kala itu. Tapi dulu saya seakan-akan seperti membaca novel, yang ingin segera ditamatkan. Tak ada pelajaran.

Entah karena faktor usia (dulu perempuan muda, sekarang perempuan dewasa, jangan bicara angka, haha..) atau karena sedang merasa kelelahan jiwa raga, namun apapun alasannya -semua sudah Allah tetapkan- kini setiap lembarnya ternikmati, atas kemudahan dari Allah, maka saya mampu mulai belajar meresapi dan memahami setiap nasehat yang tertuang dalam buku itu, dan semoga Allah mampukan untuk menjalankannya.

Semua yang terjadi, telah Allah gariskan. Dalam setiap kejadian ada kebaikan yang kita tak ketahui, banyak bahkan. Saya sungguh bersyukur, dengan cara yang tidak menyenangkan (rumah bermasalah, mendadak pindah, pikiran lelah) saya telah ‘dipertemukan kembali’ dengan sebuah buku yang sangat bermanfaat. Saya belajar (lagi) melalui sebuah buku. Buku yang sesungguhnya jiwa saya butuhkan.

Membaca dapat membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah, dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.” [ kutipan dari bab Faedah Membaca, La Tahzan – DR. ‘Aidh al-Qarni ]

*Cerita yang tertunda. Peristiwanya sudah beberapa bulan lalu lamanya. Bukunya sudah beberapa waktu lalu habis terbaca. Dan masih tinggal di ‘rumah sementara’.

K a r e n a ..

Karena setiap rasa tak menentu hadirnya
Maka ketika resah jiwa mengemuka,
yang seharusnya dilakukan adalah berdoa
Berdoa pada Sang Pemilik Jiwa

___________

Karena larut dalam ketidakjelasan emosi,
adalah salah satu cara musuh kita merasuki hati
Musuh hingga akhir jaman nanti
Yang diciptakan-Nya dari api

___________

Karena manusia memang suka berlebihan
Suka berandai-andai untuk masa depan
Sering kecewa tak berkesudahan
Kadang dihinggapi benih kesombongan

___________

Karena sesungguhnya hidup adalah ujian
Bentuknya bisa senyuman atau tangisan
Atas semua kisah hidup yang telah digariskan
Sandarkan diri pada Sang Pemberi Kehidupan

___________

Karena menempatkan manusia di surga adalah hak Rabb semesta raya
Kebaikan dan keshalehan belum tentu bisa mengantar kesana
Apalagi dengan dosa-dosa yang tak terhitung banyaknya

___________

Jangan pernah berhenti memohon ampunan dan rahmat Allah Ta`ala, Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahakuasa

Semoga akhir perjalanan yang melelahkan ini adalah surga..

* ..kala nurani menasehati diri..

Pada-Mu..

Dalam keramaian.
Tawa  dan percakapan begitu berhamburan
Aku membuang pandang jauh ke depan
Tapi yang ada hanya kekosongan

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Orang-orang (dan aku) begitu banyak bicara
Betapa banyaknya kata-kata yang mereka (dan aku) punya
Tak sadarkah mereka (dan aku) bahwa semua itu ada pertanggungjawabannya
Bahkan walau sekedar lintasan dalam hati saja

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Perjalanan fana ini suatu saat akan usai
Dan bujuk rayu nafsu dunia tak juga bisa dilerai
Tak sadar bahwa sang maut tiap saat mengintai
Entah kapan, namun kematian pasti sampai

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Dalam hening kalbuku.
Lirih aku menyebut nama-Mu,
memohon kasih sayang-Mu
Maafkan aku,
ampuni aku,
rahmati aku

Aku menangis, teringat lemahnya jiwaku..

Allahumma a`inni `ala dzikrika wa syukrika wa husni `ibadatik.”
{ Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu. }
[ HR. Abu Daud dan Ahmad ]



* ketika sesuatu hampir memenuhi hati, hingga lupa diri, untuk yang kesekian kali..

Sentimentally sensitive

Sensi, mudah menangis, cengeng. Begitu mungkin diterjemahkan secara gampangnya. Cengeng dalam KBBI diartikan sebagai : mudah menangis, mudah tersinggung (terharu dan sebagainya), lemah semangat.

Yang mana saya? Mungkin bisa mudah menangis, mudah terharu -tapi tidak mudah tersinggung- dan saya tidak mau mendefinisikannya dalam kategori lemah semangat (terdengarnya jelek nian dan semoga dijauhkan dari sifat demikian).

Apa yang ada di benak saya, sehingga mudah sekali berair mata? Entah. Bermacam-macam mungkin. Hal-hal sepele, bisa membuat bahagia, saya bersyukur, Allah karuniakan kenikmatan dalam kesederhanaan. Hal besar yang membahagiakan, saya terharu, Allah tetap melimpahkan kegembiraan, meski rasanya kualitas ibadah saya tak seberapa. Tapi tak hentinya saya diberi kebaikan-kebaikan oleh-Nya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Qs. ar-Rahman : 13)

Tak usah ditanya untuk hal-hal yang menyedihkan hingga menggalaukan, pasti tak terhindarkan rasa sentimental yang berlebihan.
Dan hal-hal yang berlebihan tentu dilarang. Selain menghabiskan energi tidak jelas, juga akan mengganggu kesehatan jiwa (ini menurut saya). Hal itu yang terus saya ingatkan pada diri, tidak boleh berlebihan menerjemahkan perasaan. Ya meskipun untuk perempuan, akan ada masa dalam setiap bulannya, karena pengaruh hormonal –qaddarullah– dapat mempengaruhi emosi, alhamdulillah `ala kulli haal.

Kemudian untuk mencari tahu apa ini sesungguhnya yang saya rasa (seperti pernah saya sampaikan dalam tulisan terdahulu, bahwa dalam Islam semua dijelaskan, sebutlah apa saja, insyaa Allah ada jawaban/penjelasannya), saya membaca tulisan-tulisan dari beberapa sumber yang tentunya saya percaya. 

Maka kurang lebihnya -secara sangat ringkas- catatan bagi saya : obat dari semua itu adalah banyak mengingat Allah ;

”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (Qs. ar-Ra’du : 28)

Juga harus terus belajar untuk lebih banyak beristighfar ;

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata :
Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar,
maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya”
.

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin”.
{ Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya }

S a k i t

Pernah sakit? Seberapa sering? Mudah-mudahan jangan terlalu sering, dan tidak yang begitu berat rasa sakitnya.
Walau sakit pun sudah digariskan, namun usaha menjaga kesehatan tetap diutamakan. Ikhtiar dengan pengobatan, bukan mendiamkan keluhan yang tak kunjung hilang.
(Kalimat terakhir ini ditujukan untuk saya sendiri, yang malas ke dokter, malas minum obat termasuk menghabiskan antibiotik, karena merasa sudah membaik)

Sering orang bilang, ‘cuacanya membuat sakit, panas terik dan hujan lebat tak menentu’, ada juga yang bilang, ‘gara-gara kehujanan, ketularan’, dan ada lagi mungkin ‘sebab-sebab’ lainnya.
Kalau saya lebih suka menyebutnya, ‘ya memang sudah jadwalnya sakit’, ‘memang rejekinya’.
Karena semua yang tadi disebutkan diatas, cuacalah, kehujananlah, ketularanlah, hanyalah ‘jalan yang sudah ditetapkan sebagai sebab’, oleh siapa? Tentu oleh Yang Mahamengatur, Allah. Semuanya sudah diatur, jadwal kita sakit pun sudah tercatat berikut penyebabnya.

Sakit itu bukanlah sembarang kondisi. Ada banyak kebaikannya. Saya juga sedang belajar untuk bisa bahagia dan bersyukur (tak mudah tentunya) bila badan kurang sehat, bahkan walau ‘sekedar’ migren (yang rasanya sungguh luar biasa bagi saya). Ibu saya selalu mengingatkan, untuk menikmati setiap ketidaknyamanan.
Mudah? Ya tidak, tapi harus dilatih. Tak perlu juga meminta sakit untuk melatih diri, belajar bersyukur saja. Dengan merasakan sakit, kita menjadi bisa lebih bersyukur di saat sehat.

Dalam salah satu buku dari serial Supernova karya Dewi Lestari, yang berjudul Partikel ada kalimat berikut:
 “… penyakit bukan sekedar gangguan. Tapi kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan.
Kalau menurut pendapat saya pribadi, ada benarnya tulisan tersebut. Sakit itu sebuah kode, tubuh memberikan kode bahwa dia perlu istirahat, bahwa dia perlu diberikan makanan yang sehat, bahwa dia perlu obat. Dan memang banyak hal yang harus dibereskan, mungkin misalnya pola hidup, pola pikir dan tentu saja memperbaiki ibadah, ibadah kepada yang memberikan kode-kode tersebut melalui badan kita, ibadah dan rasa syukur kita pada Allah Ta`ala.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.
(HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya :
Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.
(HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)

Alhamdulillah `ala kulli haal..
All praise and thanks are only for Allah in all circumstances.


*rangkaian kata kala migren melanda disertai meriang gembira dan ditemani batuk yang merdu suaranya. mohon dimaafkan bila sakitnya sangat biasa tapi tampak berlebihan merasakannya 😊