Mencari dalam mimpi

Dalam alam bawah sadar menginginkan
tanya saling bagi dan tatap saling cari
Dalam nyata tak mampu terelakkan
terbatasnya ruang temu dan waktu berbagi

Menjadi alam bawah sadar tuk meninggikan
Menyempatkan diri di tengah kesempitan
Tak menyempitkan di dalam keluasan
Memang sejalan dan tak berbeda jalan

Alam bawah sadar seperti tak ingin terpisahkan
Seakan tak ingin ada waktu yang terlewatkan
Ketika keingintahuan adalah karena perhatian
Dan baik-baiknya adalah sebuah harapan

Ketika jiwa bertemu raga mencari
Pertemuan menjadi tak hanya ingin di sini
Berharap tetap bertemu walau dalam mimpi
Serasa tak ingin terjaga dan tak ingin berhenti

Advertisements

Pada yang tak biasa..

Dimanakah kamu?
Adakah suatu yang tak biasa juga padamu?

Aku kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.

Kadang kumerasa terlalu banyak bicara dengan merangkaikan terlalu banyak aksara.
Lalu jemariku pun tak mampu membalas kalimatmu walau sekedar sepatah kata.

Dimanakah kamu?
Adakah rasa yang tak biasa ini juga milikmu?

Dan pada akhirnya hanya ada kata-kata tanpa suara dalam kepala, antara aku dan kamu..
___________________________

* tulisan lama yang kembali terbaca

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Ia dan masa lalu yang bukan miliknya

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Ia paksakan tak menitikkan air mata.

Setiap manusia memiliki masa lalu.
Masa yang bahagia, haru biru bahkan sendu.
Ada yang menyimpannya, berusaha melupakannya, atau kembali mengenangnya bila ada waktu.
Tapi masa itu tak pernah berlalu, akan terus hidup bersamamu, mungkin membentukmu, bahkan bisa jadi justru menghancurkanmu.

Maka jangan berdiam di masa lalu, lihatlah apa yang kini telah dikaruniakan Sang Pencipta untukmu
.
Ingin ia mampu berkata pada seseorang seperti itu, namun nyatanya ia hanya bisa berkata dalam hati yang kelabu.

Ia juga memiliki masa lalu.
Ia juga memahami bahwa seseorang pun memilikinya, sebuah masa lalu.
Tapi salahkah bila ia hanya ingin menjadi bagian saat ini, ingin menjadi yang kini.
Dan ketika masa lalu yang bukan miliknya itu hadir tetiba bagai hantu, lidahnya kelu.
Menerjemahkan ini semua ia tak mampu, mungkin bahkan tak mau.

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Tanpa dipaksa ia meneteskan air mata..

Some memories never leaves your bones, like salt in the sea : they become part of you
– and you carry them  [ paper wings ]

*and she’s carrying them, not her memories but other`s..

Tentang ia

Ia kehilangan daya
Bersusah payah menemukan cara
Pernah diam atau pura-pura tertawa
Lelah jiwanya tak ingin tampil di muka

Ia tak mampu merangkai rasa
Tak tahu juga bagaimana menemukan kata
Sementara antrian peristiwa terus memenuhi kepala
Hingga ia selalu bertanya, akankah nanti ada jeda ?

Ia sungguh mampu mengelabui
Dalam senyum manis ia bersembunyi
Melewati jalannya sendiri, dalam langkah sunyi
Bersama langit -biru atau kelabu- yang kadang ia tatapi

Ia hanya ingin bisa sejenak pergi
Hanya bercakap-cakap dengan hati
Atau berharap bisa berteriak sesekali
Atau mungkin cukup ditemani air mata hingga pagi..

Ia terus bertanya, kemana ini semua akan bermuara ?