H i l a n g

YUxjRmJYeg.jpg

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, beberapa pengertian untuk kata ‘hilang‘ adalah : tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan; tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi; tidak ada, tidak kedengaran lagi (tentang suara, bunyi, dan sebagainya).

Rasanya semua penjelasan diatas lebih dari cukup untuk menggambarkan tentang sebuah rasa kehilangan yang terasa hingga kini.

Oh, bukan.. ini bukan tentang kehilangan secara materi. Tapi kehilangan sebentuk situasi, yang mungkin akan berakhir dengan hilangnya sekeping memori.
Sungguh ini hal yang sangat tidak penting sebenarnya bagi sebagian besar orang, apalah arti setumpuk percakapan yang hilang dari media komunikasi.

Barangkali tidak semua orang mempunyai kebiasaan menyimpan percakapan-percakapan yang menyenangkan dengan teman-teman.
Bagi sebagian kecil orang, rasanya cukup jadi hiburan, membaca ulang sebuah percakapan yang panjang di media komunikasi, yang sekarang macamnya banyak sekali.

Sang teman ini termasuk orang yang memang mudah ‘menghilang‘, lalu tiba-tiba menyapa melalui tulisan, bercakap-cakap panjang, dan.. hilang kemudian.
Karena alasan itulah, maka tidak menghapus catatan percakapan menjadi pilihan. Sekedar untuk hiburan, untuk mengingatkan, bahwa ‘dia sungguh ada, pernah mengirimkan kata-kata‘. Agar tak merasa punya teman macam jelangkung ; datang tak dijemput, pulang tak diantar. (kok, jadi horor)

Beberapa waktu lalu, tak sengaja, terhapuslah sekumpulan percakapan yang sudah sekian waktu tersimpan disana.
Yang selama ini jadi hiburan, selalu dibaca ulang, tak lagi ada.

Lalu terasa ada yang ‘hilang‘.
Tidak ada lagi; tidak kelihatan;
Tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi;
Lenyap; tidak ada, tidak kedengaran lagi (tentang aksara, kata, sapa..)

Semoga disana, yang entah dimana, semuanya baik-baik saja, Yang Mahakuasa selalu menjaganya.

Dan kini mungkin saatnya menanti kembali, kata sapa yang tiba-tiba. Atau mungkin juga tak perlu menunggu, karena memang telah hilang bersama sang waktu.

Advertisements

P e s a n

Lembut sang bayu menyapaku,
mengusap halus dan berbisik sendu,
“Tak ada lagi bait rindu untukmu.”

Lalu rintik gerimis tiba,
pada sebuah senja yang tak jingga.
“Untuk apa menanti yang tiada?”
Begitu ia bertanya.

Saat hitam menyelimuti angkasa,
aku mendengar suara,
“Usai sudah semua, tak perlu kau tanya mengapa.”

Dan aku terjebak dalam sunyi.
Sendiri.

Mencari dalam mimpi

Dalam alam bawah sadar menginginkan
tanya saling bagi dan tatap saling cari
Dalam nyata tak mampu terelakkan
terbatasnya ruang temu dan waktu berbagi

Menjadi alam bawah sadar tuk meninggikan
Menyempatkan diri di tengah kesempitan
Tak menyempitkan di dalam keluasan
Memang sejalan dan tak berbeda jalan

Alam bawah sadar seperti tak ingin terpisahkan
Seakan tak ingin ada waktu yang terlewatkan
Ketika keingintahuan adalah karena perhatian
Dan baik-baiknya adalah sebuah harapan

Ketika jiwa bertemu raga mencari
Pertemuan menjadi tak hanya ingin di sini
Berharap tetap bertemu walau dalam mimpi
Serasa tak ingin terjaga dan tak ingin berhenti

Pada yang tak biasa..

Dimanakah kamu?
Adakah suatu yang tak biasa juga padamu?

Aku kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.

Kadang kumerasa terlalu banyak bicara dengan merangkaikan terlalu banyak aksara.
Lalu jemariku pun tak mampu membalas kalimatmu walau sekedar sepatah kata.

Dimanakah kamu?
Adakah rasa yang tak biasa ini juga milikmu?

Dan pada akhirnya hanya ada kata-kata tanpa suara dalam kepala, antara aku dan kamu..
___________________________

* tulisan lama yang kembali terbaca

Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)