Tentang kamu

Aku tatap matanya, dia menatapku juga
Aku alihkan pandanganku, tapi tatap matanya tetap tertuju padaku

Aku tersenyum, semanis yang aku bisa,
dia tak sedikit pun menggerakkan bibirnya
Aku akhirnya bicara, dengan semua kalimat yang aku punya

Lalu aku menangis, karena kamu tak juga memberikan tanda,
apakah aku didengar?
apakah mampu kamu mendengar?

Dan kupandangi dengan seksama, sesuatu yang menatapku sedari lama..

Ternyata aku salah kira,
ternyata itu bukan kamu
ternyata itu patung, bukan manusia

Maafkan aku yang sudah jadi gila,
karena yang bukan manusia itu,
mengingatkanku ketika bicara padamu..

______________________

*Terinspirasi dari foto yang diunggah seorang kawan dekat. Mengingatkan saya pada suatu masa yang telah lewat.

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (QS. Yusuf : 86)

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”  (QS. Al-Insyirah : 8)

Ia dan masa lalu yang bukan miliknya

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Ia paksakan tak menitikkan air mata.

Setiap manusia memiliki masa lalu.
Masa yang bahagia, haru biru bahkan sendu.
Ada yang menyimpannya, berusaha melupakannya, atau kembali mengenangnya bila ada waktu.
Tapi masa itu tak pernah berlalu, akan terus hidup bersamamu, mungkin membentukmu, bahkan bisa jadi justru menghancurkanmu.

Maka jangan berdiam di masa lalu, lihatlah apa yang kini telah dikaruniakan Sang Pencipta untukmu
.
Ingin ia mampu berkata pada seseorang seperti itu, namun nyatanya ia hanya bisa berkata dalam hati yang kelabu.

Ia juga memiliki masa lalu.
Ia juga memahami bahwa seseorang pun memilikinya, sebuah masa lalu.
Tapi salahkah bila ia hanya ingin menjadi bagian saat ini, ingin menjadi yang kini.
Dan ketika masa lalu yang bukan miliknya itu hadir tetiba bagai hantu, lidahnya kelu.
Menerjemahkan ini semua ia tak mampu, mungkin bahkan tak mau.

Langit kelabu.
Warna abu-abu seakan mengelilinginya.
Tanpa dipaksa ia meneteskan air mata..

Some memories never leaves your bones, like salt in the sea : they become part of you
– and you carry them  [ paper wings ]

*and she’s carrying them, not her memories but other`s..

Tentang ia

Ia kehilangan daya
Bersusah payah menemukan cara
Pernah diam atau pura-pura tertawa
Lelah jiwanya tak ingin tampil di muka

Ia tak mampu merangkai rasa
Tak tahu juga bagaimana menemukan kata
Sementara antrian peristiwa terus memenuhi kepala
Hingga ia selalu bertanya, akankah nanti ada jeda ?

Ia sungguh mampu mengelabui
Dalam senyum manis ia bersembunyi
Melewati jalannya sendiri, dalam langkah sunyi
Bersama langit -biru atau kelabu- yang kadang ia tatapi

Ia hanya ingin bisa sejenak pergi
Hanya bercakap-cakap dengan hati
Atau berharap bisa berteriak sesekali
Atau mungkin cukup ditemani air mata hingga pagi..

Ia terus bertanya, kemana ini semua akan bermuara ?

K a r e n a ..

Karena setiap rasa tak menentu hadirnya
Maka ketika resah jiwa mengemuka,
yang seharusnya dilakukan adalah berdoa
Berdoa pada Sang Pemilik Jiwa

___________

Karena larut dalam ketidakjelasan emosi,
adalah salah satu cara musuh kita merasuki hati
Musuh hingga akhir jaman nanti
Yang diciptakan-Nya dari api

___________

Karena manusia memang suka berlebihan
Suka berandai-andai untuk masa depan
Sering kecewa tak berkesudahan
Kadang dihinggapi benih kesombongan

___________

Karena sesungguhnya hidup adalah ujian
Bentuknya bisa senyuman atau tangisan
Atas semua kisah hidup yang telah digariskan
Sandarkan diri pada Sang Pemberi Kehidupan

___________

Karena menempatkan manusia di surga adalah hak Rabb semesta raya
Kebaikan dan keshalehan belum tentu bisa mengantar kesana
Apalagi dengan dosa-dosa yang tak terhitung banyaknya

___________

Jangan pernah berhenti memohon ampunan dan rahmat Allah Ta`ala, Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahakuasa

Semoga akhir perjalanan yang melelahkan ini adalah surga..

* ..kala nurani menasehati diri..

Pada-Mu..

Dalam keramaian.
Tawa  dan percakapan begitu berhamburan
Aku membuang pandang jauh ke depan
Tapi yang ada hanya kekosongan

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Orang-orang (dan aku) begitu banyak bicara
Betapa banyaknya kata-kata yang mereka (dan aku) punya
Tak sadarkah mereka (dan aku) bahwa semua itu ada pertanggungjawabannya
Bahkan walau sekedar lintasan dalam hati saja

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Perjalanan fana ini suatu saat akan usai
Dan bujuk rayu nafsu dunia tak juga bisa dilerai
Tak sadar bahwa sang maut tiap saat mengintai
Entah kapan, namun kematian pasti sampai

Aku ingin menangis, teringat pada-Mu

Dalam hening kalbuku.
Lirih aku menyebut nama-Mu,
memohon kasih sayang-Mu
Maafkan aku,
ampuni aku,
rahmati aku

Aku menangis, teringat lemahnya jiwaku..

Allahumma a`inni `ala dzikrika wa syukrika wa husni `ibadatik.”
{ Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu. }
[ HR. Abu Daud dan Ahmad ]



* ketika sesuatu hampir memenuhi hati, hingga lupa diri, untuk yang kesekian kali..

Tentang puisi

Ingin sekali bisa menulis puisi
Membariskan kata-kata penuh arti
Menggambarkan seluruh isi hati
Mungkin tentang tawa atau rindu barangkali

Tapi apa yang mau dituliskan
Tak semua perasaan dengan kata bisa terwakilkan
Melalui kata isi hati belum tentu tergambarkan
Dan tak setiap cerita perlu untuk dibagikan

Tapi kuingin sekali bisa menulis puisi
Tentang sepi,
tentang sunyi,
tentang sendiri

Ingin sekali bisa merangkai kata
Tentang senja,
tentang jingga,
tentang cinta

Mungkin suatu hari nanti, bila tiba saatnya..