Kampung 99 Pepohonan

Penamaannya agak tidak biasa menurut saya. Saya menemukan nama itu dari hasil pencarian di internet, dengan kata kunci ‘tempat wisata di Depok’. Saking mati gaya mau kemana -bukan ke mall tentu saja- maka biarlah ibu jari berselancar mencari lokasi. Alhamdulillah, jaman sekarang semuanya serba mudah dengan internet, walau kalau tidak bijak kemudahan bisa jadi jebakan bahkan permasalahan.

Dari nama-nama tempat yang muncul, saya tertarik dengan yang satu ini, Kampung 99 Pepohonan. Selain namanya, juga karena ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Kemudian saya membaca berbagai informasi dan foto-foto yang berkaitan dengan tempat tersebut, nomor teleponnya langsung saya catat.
Langkah pertama, tentu saja menghubungi melalui telepon untuk meminta informasi lebih jauh : tempat apakah itu, apa saja fasilitasnya, dimanakah lokasi tepatnya, berapa biaya untuk masuk kesana, dan sebagainya (pertanyaan ibu-ibu kadang melebar kemana-mana).
Akhirnya, setelah menyampaikan informasi pada keluarga, berangkatlah kami kesana.

Jalan menuju lokasi cukup menyenangkan untuk saya. Setelah melewati jalan besar, masuk lagi ke jalanan yang hanya cukup untuk dilewati satu mobil dan satu motor, itupun harus hati-hati supaya tidak bersenggolan.
Semakin mendekati lokasi, mulai terasa hawa sejuk dan nampak rimbun dedaunan dari pohon-pohon yang tinggi.

Untuk masuk ke lokasi tidak dikenakan biaya, tapi bila kita ingin menikmati fasilitas-fasilitas permainan dikenakan biaya per fasilitas, atau bisa juga memilih paket kegiatan yang lebih ekonomis. Saya lupa berapa tepatnya biaya yang dikenakan, berhubung kisah liburan baru saya tuliskan sekarang, jarak waktunya lumayan lama, sementara daya ingat tidak bisa diandalkan, alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Sementara anak-anak (anak saya dan ponakan) bermain, kami para ‘pengasuh’ menikmati segarnya hijau pepohonan yang rindang sambil berjalan-jalan serta menikmati makanan dan minuman di restoran. Restorannya cukup nyaman, terdiri dari dua lantai, dan bangunannya terbuat dari kayu-kayuan.

Makanan dan minuman yang disajikan merupakan hasil olahan dari kebun/kandang sendiri, dari mulai sayuran hingga daging sapi. Masyaallah, luar biasa ya.
Untuk rasanya, memang tidak terlalu istimewa, tapi enak (bagi saya rasa makanan hanya ada dua : enak dan enak sekali). Harganya tak jauh beda dengan makanan di rumah makan pada umumnya. Mungkin bisa dikategorikan ‘ada harganya’ untuk menu makanan yang biasa saja -ada banyak menu serupa di luar sana. Wajarlah, mengingat lokasinya yang di ‘pedalaman’ tentu biaya transportasi dan pengadaan bahan-bahan lainnya menjadi tidak murah.

Namun bagi saya pribadi, bisa makan dengan suasana tenang dan sejuk, rasanya itu sudah luar biasa nikmatnya, jadi saya tidak akan membandingkan dan mengeluhkan soal urusan-urusan diatas.

Ada satu kisah yang saya dapat dari petugas parkir -yang sudah bekerja belasan/puluhan tahun, saya lupa (lagi) tepatnya- saat menunggu anak-anak yang sedang berkeliling naik kuda.

Bapak itu bercerita, suatu hari dia sedang berjalan di area Kampung 99. Saat berjalan, ada ranting yang menghalangi, lalu beliau patahkan ranting tersebut. Ternyata tanpa sepengetahuannya, sang pemilik ada dibelakangnya, lalu menegur beliau, “kenapa rantingnya dipatahkan? kamu mau kalau tangan kamu diputus?!”.
Jadi asal mula Kampung 99 Pepohonan ini menjadi ada, adalah karena kecintaan pemiliknya pada pohon, demikian kata beliau. Menurut bapak petugas parkir itu, pohon-pohon ini memang sengaja ditanam, jadi lokasi ini adalah hasil kesungguhan sekian waktu lamanya dari sang pemilik, untuk mewujudkan cita-citanya, atas ijin Allah (dan juga sebagai ladang ibadahnya -ini pendapat/penilaian saya sendiri).

Dan saya menduga, angka ’99’ dalam penamaan lokasi mengacu pada Asmaul  Husna, hal ini lupa saya tanyakan pada bapak petugas parkir, yang tadi tanpa diminta telah menceritakan hal kecil, tapi perlu digaris bawahi dan diingat, tidak boleh menyakiti makhluk Allah, sepanjang tidak menjadikan itu gangguan yang berarti.

Alhamdulillah, dari perjalanan sederhana, ada hal-hal kecil yang selalu mengingatkan pada Sang Pencipta.
Pohon, tidaklah hanya menjadi pohon. Pepohonan jadi rumah bagi burung-burung atau bagi hewan/serangga, hasilnya bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, keberadaannya membuat keberlangsungan kehidupan di bumi ini.

Betapa banyaknya ciptaan Allah yang kita nikmati namun lupa disyukuri. Dan Allah berbuat sesuai kehendak-Nya, mengilhamkan pada manusia untuk menjadi tangan-Nya, melestarikan alam, menjaga lingkungan, tempat dimana manusia tinggal.
Masihkah meragukan cinta Allah pada kita? 

Menjadi catatan bagi saya : harus terus belajar bersyukur, untuk  udara yang tersedia, untuk nafas yang masih diijinkan-Nya, untuk semua hal-hal kecil lainnya, yang sering terlewatkan, karena terlalu banyak keluhan. Astaghfirullah wa atuubu ilaih.

___________________________________

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
{ QS. Al-Isra’ : 44 }

Advertisements

Be Gra(y)teful..

Abu-abu. Gray. Perak. Silver.
Uban, begitu dinamakan. Saya termasuk manusia yang telah beruban sejak usia muda. Ya sekitar usia duapuluhan lah kira-kira, usia muda kan ya?

Awalnya hanya ada satu atau dua, yang saat hadirnya membuat gatal kepala. Saya pikir kena kutu. Tapi setelah dilihat, ternyata ada ‘harta’ di kepala, rambut perak.
Ibu saya bilang, bahwa memang tumbuh uban kadang bisa membuat gatal.
Saat itu saya tidak merasa terganggu, karena jumlahnya tak sampai habis dalam sepuluh hitungan. Namun lama kelamaan bertambah banyak. Sekarang justru rambut saya yang berwarna hitamlah yang bisa dihitung dan jadi ‘minoritas’.

Untuk mencari informasi mengenai ‘harta’ di kepala saya -seperti biasa- saya berselancar di dunia maya.

Dari sumber yang saya baca (detikCom), dijelaskan bahwa setiap rambut memiliki akar yang berisi struktur seperti tas kecil atau disebut dengan folikel rambut. Folikel rambut ini mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin, yang bertanggung jawab terhadap warna rambut. Seiring berjalannya waktu, sel-sel pigmen di dalam folikel rambut akan berkurang yang membuat rambut tidak lagi memiliki melanin yang banyak. Kondisi inilah yang mengubah warna rambut menjadi abu-abu atau putih.

Lalu pertanda apakah si rambut abu-abu yang hadir begitu dini?
Diterangkan pula dalam artikel tersebut bahwa secara genetis setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan uban (atas ijin Allah). Beberapa kondisi bisa membuat uban muncul lebih awal, diantaranya faktor genetik, memiliki penyakit anemia, gangguan metabolisme, menopause dini dan juga merokok. Hmm.. dari semua yang disebutkan, rasanya bagi saya lebih nyaman bila sebab hadirnya uban ‘di awal waktu’ ini karena fakfor genetis, bukan yang lainnya, semoga memang demikian (bila Allah ijinkan).

Hadirnya rambut abu-abu adalah sebuah karunia, entah datang saat usia senja -seperti umumnya- atau tiba ketika masih terbilang muda, qaddarullah.
Mengenai uban ini juga ada petunjuknya dalam syari’at Islam. (Sumber : rumayshoCom)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.”
{ HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan }

Mahabesar Allah yang telah memberikan kebaikan luar biasa ‘hanya’ dari rambut yang tak lagi hitam warnanya, bahkan walau hanya sehelai saja.

Kemudian apa yang harus kita lakukan dengan rambut istimewa itu? Yang utama adalah jangan dicabut. Karena ‘harta’ di kepala itu akan memberikan hadiah luar biasa nantinya, insyaallah.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”
{ HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih }

Dan apa yang dilarang dalam syari’at Islam pasti mengandung kebaikan. Karena dari segi kesehatan pun dianjurkan untuk tidak mencabut uban. Mengapa? karena bisa merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut. Jika akar rambut ini rusak nantinya dapat memicu terjadinya infeksi.
Selain itu kebiasaan mencabut uban juga bisa membuat rambut menjadi tipis yang menyebabkan rambut uban akan terlihat lebih banyak, meskipun sebenarnya jumlah uban yang muncul di rambut itu tetap (detikCom).

Jadi harus bagaimana dengan kepala yang sudah keperak-perakan ini, bolehkah diwarnai? Ternyata boleh, alhamdulillah. Tapi tunggu dulu, ini pun telah diatur secara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” { HR. Muslim }

Jadi mari mewarnai, karena selain untuk mempercantik diri –for mahram only– juga untuk menyelisihi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.”

{ Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim }

So, be gra(y)teful.
Alhamdulillah `ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

J  a  r  a  k

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Ketika semuanya terasa begitu berat
Aku merasa kian merentang jarak

Tak ingin bergerak
Menyerahku dalam rengkuh ketakberdayaan
Membiarkan sepi saja yang menjadi kawan
Merelakan jiwa ini kian terpasak

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Terlupakan aku pada sesuatu yang sesungguhnya teramat dekat
Lalu mengapa akulah yang membuat jarak ?

Perlahan kuberanjak,
mengajak jiwaku bergerak
berusaha memutuskan jarak..

***

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.”


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[ Qs. al-Baqarah : 186 ]

Kisah tak sampai

Aku sudah membuatkanmu sebuah cerita, merangkai aksara menjadikannya kata-kata, berbaris-baris banyaknya
Menggambarkan kisah yang pernah ada, memberinya jiwa
Tapi entah dimana kamu berada, mungkinkah kamu akan membacanya?

Aku sudah menyiapkan cerita lagi, yang akan kutulis nanti
Nanti ketika jari jemariku ingin menari, mengisahkan segelas coklat panas dan secangkir kopi,
mengisahkan senja yang tak jingga warnanya, mengisahkan titik-titik air hujan pada kaca jendela

Harus bercerita apalagi aku?
Kini semua hanya tentang aku
Aku yang menunggu angin mengabarkan berita tentangmu
Tapi hingga kini tak kudengar bisikan sang bayu

Tak ingin lagi aku bercerita
Akan kurangkai semua rasa dalam larik-larik doa
Semoga mengangkasa hingga ke langit-Nya
Langit yang akan berwarna jingga bila senja tiba..

*coretan beberapa tahun lalu, dengan sedikit perubahan yang dirasa perlu

Friend list (media sosial)

Saya secara sadar mengelompokkan pertemanan yang saya miliki. Bukan memilih teman berdasarkan keelokan fisik atau materi sebagai ukuran, tapi sekedar membuat catatan bagaimana harus bersikap terhadap mereka. Baik dalam tutur kata sederhana, atau dalam canda tawa hingga bila tema obrolan sudah menyangkut isu-isu yang sedang
‘panas-panasnya’.

Saya memiliki teman-teman yang asyiknya hanya sekedar untuk obrolan-obrolan ringan, diselingi haha-hihi. Tapi bila diajak membahas hal serius, rasanya kok pendapatnya ‘kesana kemari’, kurang sesuai harapan dan prinsip hati.
Dengan yang demikian ini saya bisa berlama-lama dalam obrolan ketika perlu pengalihan saat pikiran rasanya disekap dalam ruangan pengap.

Ada juga teman saya yang justru selalu membahas urusan negara. Dari awal mula membicarakan masalah keluarga, ujung-ujungnya membahas ekonomi negeri ini hingga menjelaskan bagaimana sebaiknya berinvestasi dan berasuransi agar masa depan anak-anak terjamin dan masa tua tak sengsara. Jujur saja, untuk obrolan macam ini saya tidak punya bekal cukup, kalimat terhambat sampai pada sekedar memberikan semangat, atau mengirimkan emoticon-emoticon  atas pernyataan-pernyataannya, yang saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana meresponnya. Karena ada hal-hal dasar yang sepertinya kami saling gagal paham.
Dengan yang begini, saya usahakan menghindari percakapan berlama-lama demi menghindari pusing kepala.

Saya juga punya sahabat dekat, kategori ini pastilah terbatas, bahkan hitungannya tak menghabiskan lima jari. Dengan mereka, jangan ditanya apa saja yang dibicarakan, dari urusan remeh temeh, urusan keluarga, bahkan mungkin beberapa rahasia-rahasia (hahaha…). Tapi kami sungguh belajar menghindari ‘ngerumpi’, membicarakan kawan sendiri. Seringnya kami berbagi cerita seru agak konyol yang kami alami atau saling menyemangati, atau berbagi informasi ringan yang akhirnya jadi bahan guyonan.
Pada mereka, saya dengan percaya diri akan membuat sekedar ‘pengumuman’ bila saya memang benar-benar tidak dapat merespon obrolan dalam grup percakapan dengan cepat alias akan slow respon (seakan-akan saya penting untuk diajak bicara dan akan ada yang kehilangan bila tiada 😆).

Saya juga punya kawan-kawan lama. Kategori ini punya karakter percakapan sendiri menurut saya. Biasanya awal terhubung pasti dari media sosial, saya berteman dengan si A, si A sudah berteman dengan si B, lalu si B akhirnya berteman (kembali) dengan saya di media sosial.
Percakapan dengan kawan lama ini jadi semacam buah-buahan yang hadir musiman. Seru luar biasa ketika baru bertegur sapa. Segala pertanyaan meluncur di udara, apa saja, dari mulai tinggal dimana, kerja atau tidak (pertanyaan khusus bagi kawan perempuan), berapa anak sekarang, dan lain-lain. Jadi semacam memperbarui buku kenangan jaman sekolah dulu. Setelah itu, sudah. Jarang lagi kami saling menyapa apalagi bercerita.

Saya dengan sengaja membatasi jumlah teman. Bila memang tidak berteman di dunia nyata, saya lebih sering tidak mau menerima pertemanan di dunia maya. Ya saya terkadang menerima juga pertemanan dari ‘orang asing’-secara selektif, namun dengan latar belakang yang bermanfaat (ini asas manfaat dalam artian positif lho ya..).
Bagi saya lebih baik berteman dengan sedikit orang tapi kita cukup kenal, daripada memenuhi permintaan pertemanan hanya sekedar menunjukkan kepopuleran dengan jumlah kawan hingga ribuan. Yang biasanya akan menyusut drastis bila musim pilkada dan pilpres. Maka di media sosial akan ada musim ‘perampingan’ alias unfriend, bahkan hingga pemblokiran. Lalu beberapa status tentang kekecewaan hingga cacian akan bertebaran. Tak lama kemudian akan banyak status permintaan maaf karena akan menghapus beberapa kawan dari daftar pertemanan. Dan ini berlaku hampir di setiap musim pemilihan pimpinan. Ah, dunia..

Saya? Saya juga mengalami dihapus dari daftar pertemanan. Bukan, bukan karena urusan beda nomor urut calon pimpinan, tapi entah karena apa, mungkin alasan pribadi. Mungkin karena saya memang tidak menyenangkan bagi beberapa orang.
Dan bukan urusan saya apakah yang mereka jadikan alasan, walau awal mulanya sempat heran dan bertanya-tanya, ada apakah gerangan?, namun bisa saya abaikan.

Memblokir? Saya pernah juga.
Bukan juga karena urusan politik, tapi karena saya terganggu dengan status-status yang mereka tuliskan. Bukan..bukan karena saya iri, tapi karena menurut saya, apa yang jadi kebiasaan adalah salah satu dari cara mempelajari karakter seseorang. Karakter seseorang yang terus menerus ada dalam radius terdekat kita (karena gadget adalah salah satu bagian terdekat pada jaman sekarang), menurut saya bisa mempengaruhi pikiran dan bagaimana cara pandang terhadap suatu persoalan.
Teman yang ‘terpilih’ saya blokir adalah mereka yang ‘hobi’ sekali berkeluh kesah, seolah di dunia ini mereka paling susah.
Iya sih, saya bisa dipastikan bukan manusia sempurna paling bahagia di dunia, saya juga adakalanya mengeluh yang terkadang saya sampaikan dalam tulisan sebagai bentuk ‘pelampiasan’, namun tidaklah jadi ‘agenda harian’, bukan pula di media sosial dengan akses bebas merdeka bagi orang lain untuk turut serta berkomentar dengan serius atau sekedar gurauan.

Mendapatkan teman yang baik adalah satu dari sekian banyak rejeki yang dianugerahkan Illahi Robbi.
Bersyukurlah bila kita dikelilingi teman dan sahabat yang baik dan selalu mengajak pada kebaikan.
Dan segeralah menghindar dengan jurus-jurus pintar, bila ternyata sahabat dekat kita sendiri cenderung menularkan energi-energi negatif.

Semoga pertemanan dan persahabatan yang kita miliki tidak hanya menyenangkan di dunia namun membawa keberkahan serta kebahagiaan hingga ke surga, aamiin ya Robbal `alamiin.

Balada ‘merah muda’

​Sesungguhnya sejak adanya gerbong khusus wanita-yang warnanya nuansa merah muda (mengapa wanita cenderung ‘dituduh’ suka merah muda ya? *senyum*), saya tidak pernah begitu ingin menaikinya dan tidak merasa menjadi istimewa juga ketika pernah beberapa kali ada didalamnya.
Sebelum mencoba sendiri, saya sempat membaca ulasan beberapa kawan-tentunya perempuan, bahwa ternyata ketika dalam kumpulan sejenisnya-khusus dalam kereta, wanita justru ‘bertaring’ (rata-rata, tidak semua-semoga).
Tak masalah apakah berbadan kurus atau ukuran badan ‘dua orang sekaligus’, akan punya tenaga luar biasa bagus, untuk saling dorong, saling sikut, dengan mimik muka merengut dan bersungut-sungut.

Lalu saya pernah mencoba membuktikannya, benarkah sedemikian ‘mengerikan’, berjejalan di perjalanan dalam satu ruangan dengan banyak perempuan. Alhamdulillah, tidak mengalami seperti yang diceritakan sang kawan. Hanya sempat ada laki-laki yang salah memilih warna, naik gerbong merah muda. Ditegur oleh perempuan yang berdiri di depan saya, si pria masih cuek saja. Tapi lama-lama mungkin risih juga, maka peribahasa lama ‘dari mata turun ke hati, bisa menjadi : dari (tatapan) mata (para wanita), turun pindah gerbong kereta.

Kali lain, saya kembali dalam gerbong merah muda. Menjelang sore kala itu-saat penumpang kereta lebih banyak jumlahnya. Tidak berniat ada didalamnya, tapi kereta berhenti di depan saya dan terbukalah pintu gerbong khusus wanita. Apa daya, sudah terperangkap dalam jejalan manusia, naik saja pilihannya.
Nah, ternyata akhirnya saya melihat yang kawan saya alami. Naik gerbong ada yang terdorong-dorong, alhamdulillah saya berhasil ‘menyelamatkan diri’. Ketika kereta berhenti, seketika badan saling ‘bertabrakan’, ada perempuan yang langsung menengok ke belakang, dan dengan bersungut-sungut berujar “jangan dorong-dorong!!”-padahal pasti tanpa sengaja daya dorong tercipta. Tak lama kemudian ada ibu-ibu yang meminta jalan untuk lewat-karena hampir sampai stasiun tujuan, tapi perempuan yang berdiri dekat pintu keluar merespon dengan ketus, “sabaar, kita juga mau turun, sabar..sabar”, si ibu terdiam.
Saya mulai waspada, sambil bergelantungan dalam kereta, saya berdoa semoga taring saya tidak tumbuh tiba-tiba.

Merah muda ternyata tak melulu melambangkan kelembutan, tapi ‘kekuatan’ dan ‘keberanian’.

Sekian, saya sudah sampai stasiun tujuan.

*jangan terlalu serius menanggapi, ini hanya kisah pada suatu hari yang saya syukuri. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.