Libur telah tiba (?)

Terlalu betah di rumah.

Ternyata hal itu lumayan ‘merepotkan’ ketika musim liburan tiba. Tak tahu harus mengajak kemana ketika keluarga kumpul semua. Selain memang tidak pernah menjelajah daerah tempat tinggal -kalau niat bisa saja mencari informasi- juga memang pada dasarnya rasa malas menggerogoti bila liburan seperti ini. Terbayang jalanan padat oleh bermacam kendaraan, lokasi wisata yang akan penuh manusia, kebersihan kamar mandi kurang (tidak) terjaga, antrian untuk beribadah sholat di musholla/mesjid yang kecil tempatnya, berdesak-desakkan pula. Aah.. belum juga apa-apa, rasa tidak nyaman sudah jadi juara.

Saya lebih nyaman justru selama liburan tinggal saja di rumah. Di saat orang-orang memenuhi segala macam antrian, saya cukup bahagia jadi orang rumahan kala liburan. Tapi yang jadi masalah adalah ketika si kecil mengeluh bosan. Baru saya tersadar, bukan saya yang sedang menikmati liburan -karena setiap hari saya ‘libur’ di rumah- tapi justru anak sekolahan yang butuh hiburan, karena setiap hari berkutat dengan pelajaran.

Bingung juga, mau jalan-jalan kemana. Mengajak pergi ke mall, hmm.. bukan liburan pun sudah biasa beredar di mall. Berenang? Wah, sudah terbayang kumpulan manusia dalam kolam, jadi macam es cendol. Ke taman bermain yang outdoor, terkendala dengan cuaca. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, hampir beberapa malam, bahkan hingga pagi, kota ini diguyur hujan yang lumayan deras.

Baiklah, saya sadari, memang saya si manusia rumahan, yang akhirnya kesulitan membuat acara liburan, selain dengan santai-makan-tiduran, atau cukup ditemani bacaan. Bahkan sekedar keluar membeli penganan ke depan pun, saya enggan. Untuk masakan, saya pesan pada asisten rumah tangga untuk dibuatkan. Bila ingin jajan, saya minta tolong pada anak-anak yang sudah besar untuk membelikan. Bahkan lagi, saya jarang sekali keluar melebihi pagar rumah. Berlama-lama duduk di teras pun tak betah. Apakah dalam diri saya ada yang salah? Entahlah.

Dan kini, ketika musim liburan tiba, saya mati gaya. Harus pergi kemana? Apalagi ketika kata ‘terserah’ telah disampaikan oleh keluarga yang saya mintai pendapatnya.

Saya menghitung hari, kapankah liburan ini resmi diakhiri.

***

Tulisan ini dibuat saat liburan lalu. Tapi karena banyak hal, baru teringat sekarang untuk ‘ditayangkan’. Akhirnya kami keluar rumah juga, alhamdulillah, dari hasil pencarian ditemukan lokasi wisata yang dekat dengan tempat tinggal, Kampung 99 Pepohonan namanya. Nanti mungkin bisa saya ceritakan, insyaallah.

Be Gra(y)teful..

Abu-abu. Gray. Perak. Silver.
Uban, begitu dinamakan. Saya termasuk manusia yang telah beruban sejak usia muda. Ya sekitar usia duapuluhan lah kira-kira, usia muda kan ya?

Awalnya hanya ada satu atau dua, yang saat hadirnya membuat gatal kepala. Saya pikir kena kutu. Tapi setelah dilihat, ternyata ada ‘harta’ di kepala, rambut perak.
Ibu saya bilang, bahwa memang tumbuh uban kadang bisa membuat gatal.
Saat itu saya tidak merasa terganggu, karena jumlahnya tak sampai habis dalam sepuluh hitungan. Namun lama kelamaan bertambah banyak. Sekarang justru rambut saya yang berwarna hitamlah yang bisa dihitung dan jadi ‘minoritas’.

Untuk mencari informasi mengenai ‘harta’ di kepala saya -seperti biasa- saya berselancar di dunia maya.

Dari sumber yang saya baca (detikCom), dijelaskan bahwa setiap rambut memiliki akar yang berisi struktur seperti tas kecil atau disebut dengan folikel rambut. Folikel rambut ini mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin, yang bertanggung jawab terhadap warna rambut. Seiring berjalannya waktu, sel-sel pigmen di dalam folikel rambut akan berkurang yang membuat rambut tidak lagi memiliki melanin yang banyak. Kondisi inilah yang mengubah warna rambut menjadi abu-abu atau putih.

Lalu pertanda apakah si rambut abu-abu yang hadir begitu dini?
Diterangkan pula dalam artikel tersebut bahwa secara genetis setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan uban (atas ijin Allah). Beberapa kondisi bisa membuat uban muncul lebih awal, diantaranya faktor genetik, memiliki penyakit anemia, gangguan metabolisme, menopause dini dan juga merokok. Hmm.. dari semua yang disebutkan, rasanya bagi saya lebih nyaman bila sebab hadirnya uban ‘di awal waktu’ ini karena fakfor genetis, bukan yang lainnya, semoga memang demikian (bila Allah ijinkan).

Hadirnya rambut abu-abu adalah sebuah karunia, entah datang saat usia senja -seperti umumnya- atau tiba ketika masih terbilang muda, qaddarullah.
Mengenai uban ini juga ada petunjuknya dalam syari’at Islam. (Sumber : rumayshoCom)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :

“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban –walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya.”
{ HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan }

Mahabesar Allah yang telah memberikan kebaikan luar biasa ‘hanya’ dari rambut yang tak lagi hitam warnanya, bahkan walau hanya sehelai saja.

Kemudian apa yang harus kita lakukan dengan rambut istimewa itu? Yang utama adalah jangan dicabut. Karena ‘harta’ di kepala itu akan memberikan hadiah luar biasa nantinya, insyaallah.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.”
{ HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih }

Dan apa yang dilarang dalam syari’at Islam pasti mengandung kebaikan. Karena dari segi kesehatan pun dianjurkan untuk tidak mencabut uban. Mengapa? karena bisa merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut. Jika akar rambut ini rusak nantinya dapat memicu terjadinya infeksi.
Selain itu kebiasaan mencabut uban juga bisa membuat rambut menjadi tipis yang menyebabkan rambut uban akan terlihat lebih banyak, meskipun sebenarnya jumlah uban yang muncul di rambut itu tetap (detikCom).

Jadi harus bagaimana dengan kepala yang sudah keperak-perakan ini, bolehkah diwarnai? Ternyata boleh, alhamdulillah. Tapi tunggu dulu, ini pun telah diatur secara syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” { HR. Muslim }

Jadi mari mewarnai, karena selain untuk mempercantik diri –for mahram only– juga untuk menyelisihi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.”

{ Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim }

So, be gra(y)teful.
Alhamdulillah `ala kulli haal.
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

J  a  r  a  k

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Ketika semuanya terasa begitu berat
Aku merasa kian merentang jarak

Tak ingin bergerak
Menyerahku dalam rengkuh ketakberdayaan
Membiarkan sepi saja yang menjadi kawan
Merelakan jiwa ini kian terpasak

Terentang jarak
Ruang sela yang aku buat
Terlupakan aku pada sesuatu yang sesungguhnya teramat dekat
Lalu mengapa akulah yang membuat jarak ?

Perlahan kuberanjak,
mengajak jiwaku bergerak
berusaha memutuskan jarak..

***

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.”


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[ Qs. al-Baqarah : 186 ]

R e c h a r g e

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  { Qs. Al Baqarah: 216 }
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikian yang terjadi.
Pada suatu hari di bulan pertama tahun ini, saat sedang santai sore menikmati kopi, tetiba.. braaak!! Qaddarullah, ternyata atap rumah bermasalah, ambruk. Semua baik-baik saja, tak ada yang tertimpa, karena tidak -belum- sampai ambruk ke bawah, alhamdulillah.
Demi keamanan penghuni, kami harus lekas pindahan. Serba mendadak. Lelah melanda.

Singkatnya, dalam waktu satu minggu dari atap roboh, kami telah pindah. Tinggal di rumah kontrakan selama rumah dalam perbaikan. Allah berikan kemudahan. Mudah memperoleh tukang, gampang mencari rumah kontrakan, alhamdulillah.

Di rumah ‘baru’ ini -yang lebih besar dari rumah kami, alhamdulillah- tentunya fasilitas hiburannya tak bisa seperti di rumah sendiri. Karena layanan televisi berlangganan terpaksa sementara berhenti.
Maka rasanya seperti ‘kurang kegiatan’. Akhirnya saya menyadari, betapa banyaknya waktu saya selama ini di depan layar kaca (kadang saya selingi dengan membaca). Buktinya, saya merasa begitu ‘menganggur’ ketika semua tugas-tugas rumah telah selesai.

Saya memutuskan untuk membaca. Tapi baca apa? Buku-buku yang baru saya beli sudah dibaca semua. Agak susah memang dengan kebiasaan diri sendiri, kalau membaca sulit berhenti, sehingga bila membeli beberapa buku dengan harapan bisa ‘awet’ mengisi waktu, akhirnya dengan cepat habis terbaca. Saya pernah membaca buku, sekitar tujuh ratusan halaman, dalam waktu dua hari saya selesaikan. Tentunya tanpa melupakan tugas dan kewajiban. Namun kembali lagi pada isi bukunya. Saya pernah juga membeli buku, saya kira akan menarik untuk membacanya, ternyata malah membosankan, saya tinggalkan setengah jalan.

Saya akhirnya melihat-lihat lagi koleksi buku dalam kardus. Karena akan tinggal tak terlalu lama, jadi hanya keperluan-keperluan utama yang dibuka dan ditata. Sementara buku-buku tetap dibiarkan di dalam kardus saja.
Saya berpikir untuk membaca ulang saja buku lama yang menarik, daripada tak ada bacaan. Saya angkat tumpukan buku, saya ambil satu buku, ‘hmm.. jangan yang ini’, ambil lagi buku, ‘ah, malas baca yang ini diulang lagi‘, begitu selama beberapa waktu, memilih-milih buku. Dan akhirnya saya mendapatkan buku La Tahzan, karya DR. ‘Aidh al-Qarni, alhamdulillah. Saya langsung merasa bersemangat ingin membacanya kembali.

Saya belajar lagi. Saya merasa seolah-olah seperti baru membeli dan membacanya. Sama sekali saya tak teringat faedah-faedah luar biasa darinya, padahal buku itu sudah lama sekali saya beli, langsung saya baca kala itu. Tapi dulu saya seakan-akan seperti membaca novel, yang ingin segera ditamatkan. Tak ada pelajaran.

Entah karena faktor usia (dulu perempuan muda, sekarang perempuan dewasa, jangan bicara angka, haha..) atau karena sedang merasa kelelahan jiwa raga, namun apapun alasannya -semua sudah Allah tetapkan- kini setiap lembarnya ternikmati, atas kemudahan dari Allah, maka saya mampu mulai belajar meresapi dan memahami setiap nasehat yang tertuang dalam buku itu, dan semoga Allah mampukan untuk menjalankannya.

Semua yang terjadi, telah Allah gariskan. Dalam setiap kejadian ada kebaikan yang kita tak ketahui, banyak bahkan. Saya sungguh bersyukur, dengan cara yang tidak menyenangkan (rumah bermasalah, mendadak pindah, pikiran lelah) saya telah ‘dipertemukan kembali’ dengan sebuah buku yang sangat bermanfaat. Saya belajar (lagi) melalui sebuah buku. Buku yang sesungguhnya jiwa saya butuhkan.

Membaca dapat membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah, dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.” [ kutipan dari bab Faedah Membaca, La Tahzan – DR. ‘Aidh al-Qarni ]

*Cerita yang tertunda. Peristiwanya sudah beberapa bulan lalu lamanya. Bukunya sudah beberapa waktu lalu habis terbaca. Dan masih tinggal di ‘rumah sementara’.

A n t r i

Langit kelabu. Kami berjalan bergegas menuju sesuatu. Lewat gang-gang kecil, di kanan kirinya rumah-rumah yang saling berhimpitan dan berpintu kayu. Jalanannya tidak beraspal, tampak seperti diplester dan sudah berlubang-lubang, nampak tanah di dalamnya.

Usai hujan deras kala itu, namun masih menyisakan rintik gerimis, tipis. Kami mengenakan sandal, memakai kaos kaki -yang rasanya cukup tebal- tidak berpayung atau bertopi, hanya kerudung hitam panjang yang menutup kepala kami.

Ada genangan-genangan air di sana sini. Sesekali aku harus menarik sedikit baju hitam panjangku, agar tidak terlalu basah dan kotor terkena percikan tanah. Tak bisa kami jalan beriringan, karena gangnya hanya cukup untuk satu orang. Jadi dia berjalan di belakangku, aku gandeng tangannya, erat.

Kami sampai di tempat tujuan. Antrian sudah sangat panjang. Semuanya perempuan, sepertinya ibu-ibu muda, dengan anak perempuan dalam gandengan dan gendongan.
Aku pun demikian, bersama anak perempuanku.

“Panjang ya antriannya, coba kita cari jalan lain”, kataku padanya. Dia melihat antrian, lalu turut berjalan lagi bersamaku, tangannya masih aku genggam.
Aku berjalan kembali ke arah kami tadi datang, melewati sebuah rumah dengan pintu terbuka. Nampak kardus-kardus bertumpuk tak teratur. Lalu kami masuk. Aku lihat ada seorang laki-laki berperawakan sedang, berambut hitam agak ikal yang panjangnya hampir sebahu, kulitnya sawo matang, wajahnya terlihat ramah. Ia memakai kaos putih yang terlihat sudah kumal dan celana selutut warna coklat muda, mengenakan sandal.
“Pak, boleh saya ambil kardusnya?”, tanyaku padanya.
“Oh, tidak boleh, harus lewat antrian”, jawabnya dengan senyuman.
“Baik pak, terima kasih”, aku mencoba tersenyum, lalu kami pergi.
Antrian perempuan-perempuan yang menggandeng dan menggendong anak perempuannya tadi begitu panjang, tak juga mulai dibagikan apa yang mereka inginkan. Sementara kardus-kardus itu bertumpuk-tumpuk, menanti dikeluarkan. Hatiku berujar.

Kami kembali lagi menuju antrian.
Aku tidak ingin turut mengantri. Kuperhatikan tempat ini, yang semacam lapangan, dengan rumah-rumah saling berhimpitan di sisi kiri dan kanan. Lalu mataku terhenti. Ternyata antrian ini ada di depan sebuah masjid. Aku menyadarinya ketika melihat ke arah atas, ternyata ada menara-menara dan kubah di atasnya. Masjid dengan paduan warna-warna kecoklatan, abu-abu dan hitam.

“Sholat aja dulu yuk..”, ajakku pada putri mungilku. Dengan wajah yang dibingkai kerudung hitam, dan terlihat lelah,  ia mengangguk.
Kami menuju masjid, menaiki beberapa anak tangga. Setelah melepas alas kaki, kami masuk ke area khusus wanita. Sepi, hanya ada satu atau dua orang perempuan yang memakai mukena sedang duduk-duduk saja. Mungkin sudah selesai sholat atau sedang menunggu waktu sholat.

Kami memilih duduk dulu sebentar, di atas sajadah-sajadah yang telah rapi tergelar.
Lalu aku melihat seorang perempuan yang sangat kukenal. Kuajak anakku mendekat padanya.
“Itu ada nenek..”, anakku tersenyum, senang.
Ibuku tersenyum, sambil melipat mukena berwarna abu-abu yang dihiasi renda-renda.

Tak sempat aku bertanya, mengapa ibuku bisa sampai di masjid ini, bahkan lingkungan ini sangat asing bagi kami.
Tak sempat membuat percakapan apapun, karena aku terbangun.

Terbangun dengan banyak pertanyaan, pertanyaan yang tak perlu dan tidak akan menemukan jawaban.



Alhamdullillahilladzi afaaniy fii jasadiy, wa rodda alayya ruhiy, wa adzina lii bi dzikrih.”
{ Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya. }

(HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani ;
 Sumber : rumaysho(dot)com)

M a s j i d

Pagi hampir tiba. Tak ada tanda-tanda sang surya akan menampakkan dirinya.
Pagi terlihat kelabu, menghadirkan sedih dan sendu.

Aku berjalan bersama ibuku pagi itu. Dan ada beberapa pejalan kaki bersama kami.
Lalu kami melihat ada barisan orang-orang mengenakan baju serupa warna abu-abu berpotongan semacam jubah dan mengenakan sejenis topi. Perawakan mereka tinggi besar.
Tidak hanya itu. Ada juga truk-truk memuat orang-orang yang pakaiannya tampak berseragam. Dari yang terlihat di luar, mereka sepertinya memakai baju berwarna abu-abu berlengan pendek dan mengenakan peci berwarna sama. Mereka semua laki-laki.

Wajah-wajah mereka terlihat tidak ramah. Begitu serius dan pandangan lurus mengarah ke depan, seperti robot.
Aku yang berjalan di belakang barisan jubah abu-abu mulai gelisah. Kuajak ibuku untuk melangkah lebih cepat.
Aku menduga, mereka mengarah ke suatu tempat, aku tahu dimana letaknya. Aku panik.

Aku dan ibuku saling berpandangan. Mata kami mulai basah. Kami tahu apa yang akan dikerjakan manusia berpakaian abu-abu itu.
Aku berlari, kutinggalkan ibuku yang wajahnya mulai basah dengan air mata.
Makin kencang lariku, dan tangisku pecah.

Aku menghadang barisan berjubah, aku mencoba menghentikan truk berisi manusia-manusia tidak ramah. Kurentangkan tanganku, “jangaaan…!!!”, begitu teriakku. Teriakan yang rasanya hanya aku dengar sendirian.
“Jangaan, tolong jangaan…!!”, dan aku menangis sejadi-jadinya. Aku hanya sendirian. Dan barisan serta kendaraan besar itu tak juga terhentikan.
Lalu muncul orang-orang dari balik pepohonan di sekitar jalanan. Mereka hanya terdiam. Melihat yang terjadi dengan diam.

Masjid itu penuh orang-orang yang sedang beribadah. Kulihat mereka semua duduk, menengadahkan tangan dan mata mereka terpejam. Mungkin sedang berdoa, tanpa suara. Sama sekali tak terganggu dengan manusia-manusia berbaju abu-abu yang mulai turun dari truk dan mengarah ke masjid, dengan perintah-perintah tegas dari mereka yang berjubah.

“Jangaaaan…!!”, teriakku untuk yang kesekian kali. Tak dihiraukan. Mereka semakin cepat berjalan dan aku lihat ada yang mereka bawa ditangannya. Seperti sebentuk senjata, entah apa.
Karena tak ada hasil, aku mengalihkan teriakanku. Aku berlari ke arah masjid, “keluar,.. tolong keluar sekarang, mereka akan membuat kerusakan,..tolong keluaar!”, aku menangis sejadi-jadinya, memohon pada mereka untuk menghentikan ibadahnya dan menyelamatkan diri keluar masjid. Mereka bergeming.

Aku nyaris pingsan. Tak kulihat lagi ibuku.
Kulihat orang-orang di jalanan memandangiku.
Barisan manusia berjubah berhenti.
Demikian juga dengan orang-orang berseragam abu-abu dan berpeci. Padaku pandangan mereka tertuju. Aku tersungkur, air mata tak terbendung. Waktu seakan terhenti.

Aku terbangun, kudapati basah ujung-ujung mataku. Aku ingin menangis, aku tak ingin mimpi itu hadir lagi.

Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur”.
{ Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan }
[ HR. Bukhari no. 6325 ]

Pada suatu siang

​Siang itu,

Sunyi
Sepi

Terik matahari,

Panas
Gerah

Membaca buku tentang perempuan tangguh
Yang perjuangannya penuh peluh
Tak pernah mengeluh apalagi mengaduh

Tak sadar, mata akhirnya terpejam
Tertidur, rasanya tidak sampai satu jam

Antara sadar dan tidak, aku mendengar suara tangis, tangisan seorang anak perempuan
Aku tajamkan lagi pendengaran dengan mata yang masih setengah terbuka
Masih ada suara tangisannya

Kupaksa melebarkan mata, menyebut nama-Nya, Allah Sang Mahamenjaga

Aku diam, mendengarkan
Ada desau angin mengelus dedaunan
Ada nyanyian burung dari pepohonan
Tak ada suara tangisan

Mungkin hanya mimpi, tapi seingatku tak ada cerita apapun hadir dalam tidurku
Atau.. adakah yang ‘menemaniku‘?

Tapi sebagaimana hal umum yang konon dirasakan bila ada ‘makhluk lain‘ (karena Allah memang tidak hanya menciptakan manusia), aku tidak merinding, tidak pula hadir perasaan asing

Siang itu,
Tetap sunyi
Tetap sepi
Aku (semoga) tetap sendiri..

*pada suatu hari (yang lain lagi), ketika sedang tidak menempati rumah sendiri